Seorang wanita berjalan di depan reklame raksasa yang menampilkan ilustrasi terbakarnya kapal-kapal di Selat Hormuz, Senin (14/9/2026). Tertulis di reklame tersebut,
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr mengatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lengser dari jabatannya. IRGC hingga kini masih menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas di jalur yang tidak diizinkan oleh Iran di Selat Hormuz.
"Pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz hingga Trump dan Netanyahu diturunkan dari kekuasaan," kata Zoghadr dikutip Apa, Kamis (17/9/1026).
Zolghadr menggambarkan penutupan Selat Hormuz sebagai tahap pertama pembalasan dari Iran. Ia mengatakan Iran berniat untuk membalaskan dendam pihak-pihak yang terbunuh dalam perang dan menggambarkan perlawanan Iran selama 200 hari terakhir sebagai bukti upaya-upaya untuk mengalahkan perlawanan itu telah gagal.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, sebuah kesepahaman dengan Oman yang diharapkan segera tercapai bukan berarti Selat Hormuz dibuka. Pernyataan Araghchi itu dilontarkannya dalam wawancara dengan Al Araby Al Jadeed dilansir Mehr News, sembari mengatakan, agenda pada Senin (14/9/2026) di Oman akan termasuk mendiskusikan sebuah rute maritim baru di Selat Hormuz.
"Kami akan memberikan detail dari perjanjian dengan Oman dan peta terkait dengan rute baru kepada negara peserta," ujar Araghchi.
Araghchi mengklarifikasi bahwa sebuah kesepahaman dengan Kesultanan Oman "tidak berarti pembukaan kembali Selat Hormuz."
Syarat dari Iran agar Selat Hormuz kembali dibuka adalah "kembalinya Amerika Serikat kepada komitmen di bahwa memorandum Islamabad," ujar Araghchi menambahkan.
.png)
9 hours ago
4
















































