Intan Nur Asri
Gaya Hidup | 2026-06-24 19:13:44
Akhir - akhir ini, lari bukan lagi sekedar kegiatan fisik sederhana yang murah dan bisa dilakukan siapa saja. Di era media sosial, Lari telah bertransformasi menjadi sebuah fenomena budaya yang kompleks. Dari mulai starter pack pelari yang kini identik dengan sepatu mahal edisi terbaru, smartwatch canggih yang memantau detak jantung, atau tangkapan layar aplikasi Strava yang memamerkan kecepatan dan jarak tempuh, semuanya menjadi bagian dari sebuah pertunjukan digital.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar yang mungkin sering terlintas di benak kita, apakah kita benar - benar berlari untuk kesehatan, atau semata - mata untuk gaya hidup dan konten di media sosial? Di balik euforia "pelari kalcer" ini, ada sebuah gejala sosial, yaitu rasa takut ketinggalan zaman atau Fear of Missing Out (FOMO) yang kini merambah dunia olahraga.
Fenomena Lari di Zaman Sekarang, Untuk Kesehatan atau Gaya Hidup Semata?
Lari, Antara Kebutuhan dan Keinginan
Di satu sisi, tren ini membawa kegiatan positif. Kesadaran akan pentingnya peningkatan kesehatan, terutama pascapandemi, dan lari menjadi salah satu olahraga yang paling mudah diakses. Banyak anak muda, khususnya generasi Z mulai berlari, bergabung dengan komunitas, dan menjadikannya rutinitas untuk menjaga kebugaran.
Namun di sisi lain, lari telah menjadi bagian dari gaya hidup dengan simbol dan konsumsi. Sepatu lari bukan lagi sekedar alat, melainkan simbol status dan identitas. Konsumen rela mengeluarkan uang lebih untuk merek ternama, bukan hanya karena fungsinya, tetapi karena kesan dan citra diri yang melekat padanya. Begitu pula dengan smartwatch dan unggahan Strava, secara gamblang menggambarkan bagaimana validasi sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan berlari.
Tren ini melahirkan apa yang disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu kecemasan akan ketinggalan tren. Banyak anak muda mulai berlari karena tidak sadar akan pentingnya olahraga, tetapi karena takut dianggap ketinggalan zaman atau tidak gaul. Fenomena ini bahkan mencapai puncak ironisnya dengan munculnya "joki Strava". Strava adalah aplikasi pelacak olahraga yang memungkinkan pengguna membagikan hasil lari mereka. Kini, muncul jasa di mana seseorang dapat membayar orang lain untuk berlari di atas namanya, hanya demi menunjukkan jarak tempuh atau kecepatan yang mengesankan di media sosial.
Melihat Fenomena Pelari Kalcer dari Sosiologi Karl Marx
Dari kacamata Karl Marx, adanya alienasi atau keterasingan di fenomena ini. Keterasingan adalah kondisi di mana manusia terlepas dari esensi kemanusiaannya, terutama dalam ringkasan dengan kerja dan produk yang dihasilkannya.
Dalam konteks pelari kalcer, kita bisa melihat alienasi ini pada hubungan pelari dengan aktivitas lari itu sendiri. Awalnya, lari adalah aktivitas yang murni dan otentik untuk kesehatan atau kepuasan pribadi. Namun, di bawah tekanan budaya konsumerisme dan media sosial, aktivitas ini berubah. Pelari "kalcer" tidak lagi berlari semata-mata untuk merasakan dan menjaga kesehatan, melainkan demi menghasilkan konten, like, dan validasi dari orang lain.
Lari menjadi sebuah komoditas yang diperjualbelikan dalam bentuk pertunjukkan digital. Mereka menjual diri, aktivitas, dan gaya hidup mereka untuk mendapatkan pengakuan sosial di pasar media sosial. Keterasingan terjadi karena pelari kehilangan kendali atas makna aktivitasnya sendiri, makna itu kini ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melihat dan mengakui unggahannya. Kebutuhan akan pengakuan ini pada akhirnya berujung pada perilaku konsumtif yang tidak rasional, membeli perlengkapan mahal bukan karena kebutuhan, tetapi karena keharusan untuk tampil “eksis” di mata masyarakat.
Peran Pendidikan dalam Fenomena Pelari Kalcer
Fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya karakter pendidikan dan literasi kritis di era digital. Pendidikan, terutama di perguruan tinggi, memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kesadaran kritis kepada generasi muda agar tidak terseret arus FOMO dan konsumerisme. Seperti yang dikemukakan oleh pemikiran Emile Durkheim, bahwa pendidikan adalah sarana untuk menanamkan nilai dan norma, bukan sekedar transfer pengetahuan. Namun, penanaman solidaritas harus diimbangi dengan kesadaran kritis agar dampak sosial tidak bersifat destruktif.
Pendidikan harus mengajarkan bahwa berolahraga, termasuk lari, adalah sebuah kebutuhan intrinsik untuk kesehatan, bukan alat untuk mencari validasi eksternal. Penting bagi pelajar dan generasi muda untuk selalu melihat motif di balik setiap tindakan. Apakah mereka berlari karena tubuh mereka memerlukan gerakan dan kesehatan, atau hanya karena takut dianggap ketinggalan tren dan kehilangan pengakuan sosial?
Fenomena pelari kalcer adalah cerminan dari masyarakat konsumeris dan digital yang semakin kompleks. Melalui lensa Karl Marx, kita bisa melihat bagaimana keterasingan merasuk ke dalam aktivitas yang paling personal sekalipun. Namun, bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial atau perlengkapan modern. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menggunakannya dengan bijak, tanpa membiarkan alat-alat tersebut mengendalikan makna dan tujuan hidup kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
8 hours ago
5

















































