
Oleh : Anang Fahmi, Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto
REPUBLIKA.CO.ID, Ia menjual tanahnya separuh harga karena tidak mau menunggu. Bukan karena terdesak utang. Tapi karena ada sesuatu yang lebih mendesak dari uang: rasa ingin segera menunaikan panggilan.
Dalam peta tasawuf, ada tingkatan spiritual yang paling sulit dibuat-buat dan paling mudah dikenali ketika benar-benar hadir: *ikhlas*. Bukan ikhlas yang diucapkan di mimbar, bukan ikhlas yang tertulis di prasasti, tapi ikhlas yang perilakunya justru memperlihatkan sesuatu yang berlawanan dengan naluri mempertahankan diri — ikhlas yang memilih rugi secara materi demi sesuatu yang lebih besar dari materi itu sendiri.
Nyak Sandang, yang meninggal dunia di usia 100 tahun di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, pada April 2026, adalah salah satu dari sedikit manusia Indonesia yang perilakunya tidak perlu dianalisis panjang untuk dipahami sebagai maqam spiritual tertinggi itu. Seorang lelaki berusia 23 tahun menjual sepetak sawah seharga Rp 100, padahal nilai sesungguhnya Rp 200, karena ia tidak mau menunggu. Ia ingin segera menyerahkan uang itu. Bukan karena ada yang memaksa. Bukan karena ada yang mengawasi. Tapi karena di dalam dadanya ada sesuatu yang mendesak seperti api kecil yang tidak mau padam sebelum menunaikan tugasnya.
"Saya ikhlas membantu. Tidak mengharap apa-apa. Kami waktu itu membantu tanpa adanya paksaan."
Kalimat itu, diucapkan oleh seorang kakek di beranda rumah sederhana di Aceh Jaya, adalah salah satu kalimat paling berat dalam sejarah spiritual bangsa ini, justru karena beratnya tidak terasa.
Zuhud Bukan Kemiskinan: Memahami Pilihan Nyak Sandang
Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti miskin atau tidak memiliki harta. Zuhud adalah kondisi di mana harta ada di tangan, tapi tidak ada di hati. Ketika sebuah pilihan harus dibuat antara harta dan sesuatu yang lebih bermakna, hati yang zuhud tidak perlu pertimbangan panjang. Ia sudah tahu jawabannya sebelum pertanyaannya selesai diajukan.
Nyak Sandang bukan orang miskin yang tidak punya pilihan. Ia punya sawah. Ia tahu sawah itu bernilai Rp 200. Ia bisa menunggu pembeli yang berani membayar harga penuh. Tapi ia memilih tidak menunggu. Ia menjual cepat, separuh harga, bukan karena terpaksa, tapi karena menunda terasa lebih berat dari kehilangan separuh nilai tanahnya.
Inilah yang dalam terminologi tasawuf disebut taqdim al-haqq 'ala al-hawa, mendahulukan yang benar di atas keinginan diri. Seorang manusia yang sudah sampai pada maqam ini tidak lagi bergulat dengan pertanyaan "berapa untungnya bagiku?" Pertanyaan yang tersisa hanya satu: "apakah ini saatnya aku menunaikan?"
Majelis Masjid sebagai Titik Transformasi
Ada detail yang sering luput dari perhatian dalam kisah ini: sumbangan Nyak Sandang tidak terjadi di ruang negosiasi bisnis, tidak di kantor pemerintah, tidak di bawah tekanan pajak atau kewajiban administratif. Ia terjadi setelah sebuah pidato di halaman masjid di Calang, Aceh Jaya.
Gubernur Militer Abu Daud Beureueh berbicara. Ulama terkemuka Abu Sabang memberikan pengarahan. Dan masyarakat, yang baru saja keluar dari penjara Belanda karena tidak mampu membayar pajak tujuh setengah rupiah, tidak mundur. Mereka justru maju.
Dalam tradisi tasawuf, masjid bukan sekadar bangunan ibadah ritual. Ia adalah ruang transformasi, tempat di mana kesadaran individual bertemu dengan panggilan kolektif, di mana ego dilebur dalam sesuatu yang lebih besar. Ketika Nyak Sandang mendengar pidato itu, yang terjadi bukan persuasi intelektual. Yang terjadi adalah apa yang dalam bahasa tasawuf disebut tajalli, penampakan makna yang tiba-tiba menerangi seluruh ruangan batin seseorang dan membuat semua kalkulasi duniawi menjadi sekunder seketika.
Masyarakat yang baru keluar dari penjara, yang harusnya trauma dan kelelahan, justru berlomba menyumbang. Ini bukan perilaku yang bisa dijelaskan hanya dengan teori motivasi biasa. Ini adalah gejala dari apa yang Al-Ghazali sebut sebagai mahabbah yang menggerakkan, cinta yang tidak statis, tapi aktif, produktif, dan berani berkorban.
Ikhlas yang Tidak Butuh Tanda Terima
Ibnu Taimiyah dalam Al-'Ubudiyyah menjelaskan bahwa 'ubudiyyah, penghambaan sejati kepada Allah, bukan hanya soal ibadah ritual. Ia adalah kondisi di mana seluruh gerak manusia, termasuk keputusan ekonomi, pilihan sosial, tindakan kebangsaan, bersumber dari satu orientasi: bukan kepentingan diri, bukan pujian manusia, bukan imbalan duniawi.
Nyak Sandang menerima obligasi sebagai tanda bukti sumbangan. Gubernur Daud Beureueh menjanjikan hadiah dalam 40 tahun. Tapi Nyak Sandang tidak menunggu hadiah itu. Ia tidak menuntut janji itu dipenuhi. Bahkan ketika kisahnya baru viral delapan dekade kemudian, pada 2018, yang disampaikannya kepada Presiden Joko Widodo bukan tuntutan kompensasi, tapi tiga permintaan yang seluruhnya bukan untuk dirinya secara materiil: operasi katarak, masjid untuk kampungnya, dan naik haji.
Tiga permintaan itu adalah peta batin seseorang. Dari ketiganya, tidak satu pun yang berbentuk aset pribadi, tidak satu pun yang bersifat akumulatif. Semuanya adalah pembersihan, pelayanan, dan perjalanan menuju Allah.
Dalam ilmu tasawuf, ini adalah tanda dari maqam ridha, kondisi di mana seseorang tidak lagi terganggu oleh ketidakseimbangan antara apa yang ia berikan dan apa yang ia terima. Bukan karena ia tidak merasakan ketidakseimbangan itu. Tapi karena neraca yang ia gunakan berbeda dari neraca duniawi. Ia menimbang dengan timbangan yang tidak bisa diukur dalam rupiah, dolar, atau hektar sawah.
100 Tahun dan Satu Pelajaran yang Tidak Pernah Usang
Ketika Presiden Prabowo Subianto berlutut menyematkan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang yang duduk di kursi roda pada Agustus 2025, ada ironi spiritual yang dalam di ruang itu: seorang pemimpin negara berlutut di hadapan seorang rakyat biasa yang hidup di desa kecil di Aceh Jaya.
Tapi dalam logika tasawuf, itu bukan ironi. Itu adalah kebenaran yang akhirnya terlihat. Karena kemuliaan sejati tidak pernah berasal dari jabatan, dari kekuasaan, atau dari akumulasi harta. Ia berasal dari kedalaman niat dan kebersihan tindakan, dari sesuatu yang Nyak Sandang lakukan pada usia 23 tahun, di halaman masjid di Calang, ketika ia memutuskan untuk menjual tanahnya separuh harga karena tidak mau menunggu untuk menunaikan panggilan.
Al-Ghazali menulis bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah bukan yang paling banyak memiliki, tapi yang paling jernih hatinya. Nyak Sandang membuktikan bahwa kejernihannya bukan warisan,ia adalah pilihan yang dibuat ulang setiap hari selama seratus tahun.
Dan pilihan itu, dalam diam dan tanpa banyak kata, telah menjadi salah satu fondasi spiritual dari negara yang kini kita huni.
Selamat jalan, Nyak Sandang. Sawahmu sudah lama menjadi pesawat.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
4 hours ago
3
















































