Shilva Lioni
Lentera | 2026-06-28 12:28:59
https://www.shutterstock.com
Di Indonesia hari ini, kemampuan berbahasa asing terutama bahasa Inggris sering dianggap sebagai simbol kemajuan. Sekolah berlomba membuka kelas bilingual, orang tua bangga ketika anak lebih fasih mengucapkan good morning daripada "selamat pagi", dan banyak institusi akademik juga turut menempatkan bahasa asing sebagai sebuah ukuran intelektualitas.
Lebih lanjut, tentu tidak ada yang salah dengan mempelajari bahasa asing. Dalam dunia global, penguasaan bahasa internasional memang menjadi kebutuhan. Namun, persoalan kemudian muncul ketika bahasa asing tidak lagi dipandang sebagai alat komunikasi semata, melainkan sebagai simbol superioritas budaya dan ukuran utama modernitas. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Jika ditelusuri secara historis, ia memiliki akar yang panjang dalam proyek kolonialisme dan modernisme Barat. Terdapat jejak sejarah panjang yang membentuk cara pandang tersebut.
Modernitas dan Misi Peradaban
Sejarah modernisme tidak dapat dipisahkan dari kolonialisme. Sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-20, bangsa-bangsa Eropa tidak hanya mengekspansi wilayah dan perdagangan, tetapi juga mengekspor cara berpikir, sistem pendidikan, ilmu pengetahuan, dan bahasa mereka ke berbagai penjuru dunia. Modernitas dipresentasikan sebagai sesuatu yang identik dengan Eropa, sementara masyarakat non-Eropa ditempatkan dalam posisi "tradisional", "terbelakang", atau "belum berkembang".
Dalam kerangka ini, pendidikan menjadi instrumen utama kolonialisme. Sekolah tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan pandangan bahwa pengetahuan yang sah berasal dari pusat-pusat peradaban Barat. Bahasa kolonial kemudian menjadi gerbang menuju status sosial, pengetahuan, pekerjaan, dan kekuasaan. Mereka yang menguasai bahasa asing memperoleh akses terhadap birokrasi dan pendidikan tinggi, sementara mereka yang bertahan dengan bahasa lokal sering diposisikan sebagai kelompok pinggiran.
Modernisme dan Bahasa Asing
Kolonialisme memahami bahwa menguasai bahasa berarti menguasai cara berpikir. Ketika suatu masyarakat mulai percaya bahwa bahasa asing lebih bergengsi daripada bahasa sendiri, sesungguhnya telah terjadi kolonisasi kesadaran (colonization of consciousness). Terkait hal ini, sudah sepatutnya pertanyaan seperti "Mengapa kita belajar bahasa asing?" patut kita pikirkan dan renungkan kembali. Apakah belajar bahasa asing diperuntukkan untuk memperluas wawasan dan mengakses ilmu pengetahuan global ataukah karena kita masih menyimpan keyakinan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar negeri pasti lebih modern, lebih cerdas, dan lebih bernilai.
Sejarah menunjukkan bahwa bahasa Inggris menyebar ke seluruh dunia bukan semata karena keunggulan linguistiknya, melainkan karena kekuatan politik dan ekonomi Imperium Britania. Dilansir dari Cambridge University Press, setelah era kolonial berakhir, dominasi bahasa diteruskan oleh pengaruh ekonomi, teknologi, dan budaya Amerika Serikat sehingga bahasa Inggris berkembang menjadi bahasa global. Akibatnya, banyak negara pascakolonial mengalami dilema. Di satu sisi, bahasa Inggris membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan jaringan internasional. Di sisi lain, dominasi bahasa tersebut sering menempatkan bahasa lokal pada posisi subordinat. Inilah yang oleh banyak para akademisi disebut sebagai linguistic imperialism atau imperialisme linguistik dimana bahasa berubah menjadi simbol kelas sosial.
Warisan psikologis seperti hal inilah yang kemudian masih dapat ditemukan hingga hari ini. Meskipun kolonialisme secara politik telah berakhir, sebagian masyarakat masih memandang bahasa asing sebagai representasi kemajuan dan prestise. Dalam banyak situasi, bahasa asing tidak digunakan karena kebutuhan komunikasi, melainkan untuk menunjukkan identitas sosial tertentu. Fenomena ini mengingatkan kita pada konsep cultural capital yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu dimana menurut Bourdieu, kelompok sosial tertentu mempertahankan status mereka melalui penguasaan simbol-simbol budaya yang dianggap bernilai tinggi.
Modernisme yang Perlu Kita Bangun
Tantangan Indonesia saat ini bukan menolak modernisme, melainkan mendefinisikannya kembali. Modernisme Indonesia seharusnya tidak berarti berbicara seperti orang Barat dan berpikir seperti orang Barat dengan meninggalkan bahasa dan budaya sendiri.
Modernisme Indonesia harus berarti berpikir kritis, menghargai ilmu pengetahuan, mengembangkan inovasi, membangun budaya literasi, dan sekaligus menjaga identitas nasional.
Dengan demikian, seseorang dapat menguasai bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Arab, atau bahasa asing lainnya tanpa kehilangan kebanggaannya terhadap bahasa Indonesia. Karena ukuran kemajuan suatu bangsa bukanlah seberapa banyak warganya menggunakan bahasa asing, melainkan seberapa besar kontribusi gagasan yang mereka hasilkan untuk peradaban dunia.
Indonesia dan Warisan Kolonial yang Tak Disadari
Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman unik. Berbeda dengan banyak negara bekas koloni yang tetap menggunakan bahasa penjajah sebagai bahasa resmi, Indonesia memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional setelah kemerdekaan.
Keputusan tersebut merupakan langkah politik yang revolusioner. Para pendiri bangsa memahami bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti mengusir penjajah secara fisik, tetapi juga membangun identitas kolektif melalui bahasa sendiri.
Namun dalam praktiknya, warisan kolonial masih terasa. Hari ini kita sering menemukan paradoks yang menarik. Banyak orang merasa lebih bergengsi ketika menggunakan istilah asing meskipun tersedia padanannya dalam bahasa Indonesia. Presentasi akademik dipenuhi istilah Inggris yang sebenarnya dapat diterjemahkan. Nama perumahan, pusat perbelanjaan, bahkan lembaga pendidikan sering menggunakan bahasa asing untuk menciptakan kesan modern dan eksklusif. Dari fakta ini, tanpa disadari, kita masih mewarisi logika kolonial yang menghubungkan bahasa asing dengan status sosial yang lebih tinggi.
Modernisme Bukan Westernisasi
Kesalahan terbesar dalam memahami modernitas adalah menganggap modernitas identik dengan westernisasi. Padahal, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan sejumlah negara maju lainnya menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus dibayar dengan pengabaian bahasa nasional. Mereka aktif mempelajari bahasa asing, tetapi tetap menjadikan bahasa sendiri sebagai medium utama pendidikan, penelitian, dan kehidupan publik.
Modernitas sejati bukanlah kemampuan meniru Barat, melainkan kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan global tanpa kehilangan identitas lokal. Dalam konteks Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, atau bahasa asing lainnya tentu penting. Namun kemampuan tersebut seharusnya menjadi jendela untuk memahami dunia, bukan alasan untuk meremehkan bahasa Indonesia. Bahasa asing dapat diumpamakan sebagai alat, sementara bahasa nasional adalah rumah. Orang yang bijak akan membuka banyak jendela, tetapi tidak merobohkan rumahnya sendiri.
Membangun Kesadaran Pascakolonial
Tantangan terbesar generasi sekarang bukan lagi kolonialisme teritorial, melainkan kolonialisme simbolik dan epistemik. Kita hidup di era ketika dominasi berlangsung melalui media, kurikulum, teknologi, dan bahasa. Pembelajaran bahasa asing pada saat sekarang ini harus ditempatkan dalam perspektif yang sehat. Kita perlu menguasainya untuk bersaing secara global, tetapi sekaligus memahami sejarah yang melatarbelakangi penyebarannya. Belajar bahasa Inggris seharusnya tidak membuat seseorang kurang nasionalis dan menganggap bahasa Inggris lebih bernilai daripada bahasa Indonesia adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap warisan intelektual bangsa sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
7 hours ago
5










































