REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING - Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Beijing, Selasa (14/4/2026) untuk membahas isu bilateral. Pertemuan tersebut juga sekaligus untuk mempersiapkan pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin.
"Kedua pihak juga melakukan komunikasi dan penyesuaian terkait persiapan pertemuan kepala negara kedua negara tahun ini," demikian disebutkan dalam laman Kementerian Luar Negeri China, Rabu (15/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi mengatakan situasi internasional tengah mengalami gejolak hebat, bahaya hegemoni sepihak semakin meningkat, sistem tata kelola global menghadapi perubahan besar, serta upaya perdamaian dan pembangunan umat manusia menghadapi tantangan berat.
"Menghadapi lingkungan eksternal yang kompleks dan berubah-ubah, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin, hubungan China-Rusia 'tidak terhalang oleh awan yang menutupi pandangan', dan kerja sama di berbagai bidang 'tetap kokoh meskipun ditempa berkali-kali'," ungkap Wang Yi.
Kedua negara juga disebut saling berkoordinasi dan mendukung di panggung internasional untuk menunjukkan bahwa di tengah perubahan besar justru diperlukan tanggung jawab yang lebih besar.
"Kedua pihak harus memanfaatkan peluang historis, mengikuti tren zaman, sepenuhnya melaksanakan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara, serta mendorong kemitraan koordinasi strategis China-Rusia dan kerja sama saling menguntungkan di berbagai bidang," tambah Wang Yi.
Wang Yi juga menyebut China dan Rusia perlu memperkuat kerja sama dalam kerangka multilateral seperti PBB, Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dan BRICS, serta terus mempertahankan koordinasi strategis dalam isu internasional dan regional utama, sekaligus bersama-sama mempraktikkan multilateralisme.
Sementara itu, Menlu Lavrov menyatakan bahwa Rusia dan China merupakan mitra koordinasi strategis komprehensif yang saling menghormati dan memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
"Rusia akan melaksanakan konsensus para kepala negara, terus mempererat komunikasi di tingkat pejabat tinggi, memperdalam kerja sama pragmatis, dan mewujudkan hasil yang saling menguntungkan," kata Lavrov.
Lavrov mengakui bahwa situasi internasional saat ini menghadapi tantangan serius, dengan sejumlah negara berupaya membentuk berbagai "kelompok kecil" untuk membendung Rusia dan China.
"Kedua negara perlu menyelaraskan berbagai inisiatif global yang diajukan Presiden Xi Jinping dengan gagasan 'Kemitraan Eurasia Raya' dan 'Arsitektur Keamanan Benua Eurasia' yang diusulkan Presiden Putin, mempertahankan koordinasi dan kerja sama di panggung multilateral serta dalam urusan internasional maupun regional, serta bersama-sama menjaga keamanan dan stabilitas sistem internasional," ungkap Lavrov.
Menlu Wang Yi dan Lavrov juga membahas isu internasional dan kawasan, termasuk konflik Amerika Serikat–Iran, situasi Asia-Pasifik, dan krisis Ukraina. Setelah pertemuan, kedua menlu menandatangani rencana konsultasi tahun 2026 antara kementerian luar negeri kedua negara.
sumber : Antara
.png)
6 hours ago
4















































