Mengapa Para Salaf Menangis Saat Mengingat Kematian?

9 hours ago 2

Ilustrasi ziarah kubur untuk mengingat kematian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tidak ada kepastian yang lebih dekat daripada kematian. Namun anehnya, justru kepastian itulah yang paling sering dilupakan manusia.

Kesibukan, ambisi, jabatan, harta, dan berbagai urusan dunia kerap membuat manusia hidup seolah memiliki waktu yang tak berbatas. Padahal setiap hari yang berlalu sesungguhnya adalah perjalanan menuju titik akhir yang sama.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kullu nafsin dzā`iqatul maut, wa innamā tuwaffauna ujūrakum yaumal qiyāmah, faman zuhziha 'anin nāri wa udkhilal jannata faqad fāz, wa mal hayātud dunyā illā matā'ul ghurūr.

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Ali Imran: 185)

Karena itulah para salafussalih memiliki beragam cara untuk menjaga kesadaran akan kematian. Mereka tidak menunggu datangnya musibah atau kehilangan orang tercinta untuk mengingat akhir kehidupan. Sebaliknya, mereka secara sengaja menghadirkan ingatan tentang kematian dalam keseharian mereka.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan ziarah kubur. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ziarah kubur bertujuan mengingatkan manusia kepada kematian sekaligus mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului.

Senada dengan itu, Imam An-Nawawi dalam kitab Nashaihul Ibad menerangkan bahwa salah satu tujuan utama ziarah kubur adalah mengingat mati dan kehidupan akhirat.

Tradisi ini juga dicontohkan Rasulullah SAW. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau menziarahi makam ibundanya serta makam para sahabat di pemakaman Baqi'.

Namun mengingat kematian tidak selalu dilakukan dengan mendatangi kuburan. Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah disebutkan bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib berbicara tentang kematian di hadapan kaum Muslimin.

Saat menyampaikan nasihat tersebut, Ali menangis. Tangisnya kemudian menular kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya hingga mereka turut menangis.

Bagi generasi awal Islam, kematian bukan sekadar tema ceramah. Ia adalah kenyataan yang selalu hadir dalam kesadaran mereka.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |