umar arsyad
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-23 15:05:18
Proses Pembelajaran Bahasa Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
"Pondok Modern Darussalam Gontor menjadikan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi yang wajib digunakan para santri dalam kehidupan sehari-hari. Karena, bahasa adalah mahkota pondok."
Para santri di Pondok Modern Darussalam Gontor mungkin sudah tak asing lagi dengan pepatah: “bahasa adalah mahkota pondok.” Pepatah sederhana ini telah diwariskan sejak zaman dulu, dan tetap relevan hingga saat ini.
Mengapa bahasa disebut dengan mahkota pondok?
karena bahasa merupakan identitas, kebanggaan, dan ciri khas yang membedakan antara Pondok Modern Darussalam Gontor dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Sebagaimana mahkota yang menghiasi dan menunjukkan kehormatan seseorang, bahasa menjadi simbol kemajuan intelektual, kedisiplinan, dan peradaban santri.
Dengan itu, sebelum para santri memakai mahkota tersebut dengan layak, para santri dilatih, diajarkan, dan dididik perkataan sehari-harinya menggunakan dua bahasa resmi, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Tiga pelatihan berbahasa di Gontor, diataranya: Ilqo al-mufrodat, al-muhadtsah, dan praktik dalam berbicara sehari-hari.
Ilqo Al-Mufrodat: Metode Jitu Penambah Kosakata Para Santri
Ilqo al-mufrodat adalah salah satu metode pembelajaran berbahasa di Pondok Modern Darussalam Gontor yang dilaksakan pagi hari setelah sholat subuh.
Pembelajaran tersebut mencakup pemberian kosakata Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, latihan pelafalan yang benar, serta penulisan kosakata tersebut ke dalam buku khusus bahasa.
Biasanya, para santri diajarkan untuk mendengarkan terlebih dahulu kosakata yang dibacakan oleh pengurus asrama. Setelah itu, barulah para santri mengucapkan kembali apa yang telah diucapkan oleh pengurus asrama.
Sebagai contoh, pengurus asrama mengucapkan, “Isma‘u jayyidan wa an tahtammu ila al-amam. Qalamun, hadza qalamun,” yang berarti, “Dengarkan baik-baik dan perhatikan ke depan. Pulpen, ini adalah sebuah pulpen.”
Setelah para santri menyimak dengan saksama, barulah para santri melafalkan kosakata tersebut secara bersama-sama mengikuti ucapan pengurus rayon, “Qalamun, hadza qalamun.”
Melalui metode ini, para santri tidak hanya menghafal kosakata baru, tetapi juga berlatih mengucapkannya dengan pelafalan yang benar.
Al-Muhadtsah: Melatih Santri Untuk Berbicara Bahasa Arab dan Inggris
Beda dengan metode ilqo al-mufrodat, al-muhadtsah lebih menekankan aspek pembicaraan Dengan Bahasa Arab dan Inggris sehari-hari.
Al-Muhadatsah dilaksanakan setelah salat Subuh setiap hari Selasa dan Jumat. Dalam pembelajaran ini, para santri Pondok Modern Darussalam Gontor berkumpul secara berpasangan untuk berlatih percakapan menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris secara langsung.
Contohnya, Ahmad: “Assalamualaikum yaa Isa? Kayfa haalukaa? Sobahul khoir?” Isa: “Waalaikumussalam yaa Ahmad. Alhamdulillah inni bi khoirin. Sobahunnur.”
Artinya, Ahmad: “Assalamualaikum wahai Isa? Bagaimana kabarmu? Selamat pagi?” Isa: “Waalaikumussalam wahai Ahmad. Alhamdulillah, kabar saya baik. Selamat pagi juga.”
Melalui interaksi tatap muka tersebut, para santri dibiasakan untuk mengaplikasikan kosakata dan kaidah bahasa yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Praktik Berbahasa Sehari-Hari Dengan Penuh Disiplin
“Pondok Modern Darussalam Gontor bisa maju dan berkembang hingga saat ini karena kedisiplinannya.” (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi)
Para santri dilatih untuk berdisiplin dalam mengucapkan Bahasa Arab dan Inggris di lingkungan asrama, kelas, kantin, dan seluruh tempat di pondok.
Selain dilatih untuk melatih disiplin atas dirinya sendiri, Gontor juga memiliki bagian khusus yang menaungi pembelajaran berbahasa, yaitu Qismul Lughoh (Bagian Bahasa).
Jadi, walaupun para santri berada dimana – pun pasti ada yang mengawasinya. Apabila didapati mengucapkan bahasa daerah atupun bahasa kotor, maka akan ada hukuman yang diberikan Bagian Bahasa kepada santri tersebut.
Hukuman yang diberikan kepada santri tersebut biasanya adalah menulis insya Bahasa Arab dan Inggris ataupun mencatat beberapa kosakata tertentu.
Namun, apabila santri yang melanggar mengucapkan kata ataupun kalimat yang tidak seharusnya diucapkan oleh santri, biasanya mendapatkan hukuman lebih, yaitu jundi (cepak tentara) dan botak.
Dengan peraturan yang cukup ketat tersebut, para santri dipaksa untuk dapat berbahasa Arab dan Inggris dalam kesehariannya.
Dengan keterpaksaan untuk melafalkan Bahasa Arab dan inggris, para santri akan terbiasa mengucapkannya dengan baik. Hingga akhirnya dapat berguna untuk mereka di kemudian hari nanti.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
4










































