REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Liburan menjadi satu aktivitas penting untuk melepas penat dan menjaga keseimbangan hidup. Namun di tengah kenaikan harga tiket pesawat, perlu ada penyesuaian yang lebih matang dalam perencanaan.
Bagaimana caranya?
Perencana keuangan dan pendiri CerdasKeuangan, Erlina Juwita, menekankan pentingnya membuat anggaran liburan sejak jauh hari. Idealnya anggaran liburan dialokasikan sebesar 5 hingga 10 persen dari pendapatan agar tidak mengganggu arus kas (cash flow).
"Supaya tidak mengganggu cash flow, sebaiknya buat rencana anggaran dan disesuaikan dengan kondisi sekarang, misal harga tiket pesawat yang naik. Untuk budget liburan, alokasi idealnya 5-10 persen dari pendapatan, jadi silakan diatur tujuan liburan yang sesuai kemampuan finansial," kata Erlina saat dihubungi Republika, Selasa (7/4/2026).
Sebagaimana diketahui, pemerintah telah mengizinkan maskapai penerbangan menaikkan harga tiket domestik hingga 13 persen sebagai imbas dari kenaikan harga avtur. Kondisi ini membuat biaya perjalanan menjadi lebih tinggi dari biasanya.
Meski demikian, Erlina menegaskan liburan tetap bisa dilakukan dengan sejumlah penyesuaian. Di antaranya dengan mengatur ulang waktu perjalanan ke periode yang lebih terjangkau, memilih objek wisata yang lebih hemat, serta mencari akomodasi dengan harga yang lebih ekonomis.
la juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang mash jarang mengalokasikan dana khusus untuk liburan. Banyak yang justru menggunakan uang tabungan ketika ingin bepergian.
Padahal menurut Erlina, konsistensi menabung bisa dibangun dengan cara sederhana, yakni menyishkan dana di awal, bukan dari sisa pengeluaran. la menyarankan untuk memulai dari nominal kecil dan melakukannya secara otomatis pada tanggal yang sama setiap bulan agar lebih disiplin.
"lya memang agak sulit jika belum dibiasakan. Supaya disiplin, sisihkan di awal, mulai dari jumlah kecil, dan lakukan secara otomatis," kata dia.
Lebih lanjut, Erlina mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri berlibur jika anggaran belum mencukupi. Terlebih jika harus menggunakan utang, hal itu justru dapat membebani keuangan di kemudian hari.
"Jika dipaksakan maka akan mengganggu cash flow, apalagi jika pakai utang, akan ada beban tambahan untuk melunasi utang tersebut," jelas Erlina.
.png)
9 hours ago
5

















































