REPUBLIKA.CO.ID, TERNATE, – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyatakan bahwa provinsi tersebut tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam hilirisasi perikanan. Hal ini diungkapkan dalam Forum Diskusi Terpumpun di Ternate, Minggu, untuk membangun fondasi ekonomi daerah.
Gubernur Sherly menekankan bahwa tanpa hilirisasi dan partisipasi swasta, potensi laut Maluku Utara hanya akan menjadi sumber daya yang belum tergali. Dengan 70 persen wilayah provinsi terdiri dari lautan, arah pembangunan kini beralih ke sektor kelautan.
Sherly berkomitmen untuk mengatasi paradoks kemiskinan di wilayah pesisir, di mana nelayan masih hidup di bawah garis kemiskinan meski kaya akan potensi laut. Strategi "Hilirisasi Perikanan" dianggap sebagai kunci untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Pilar Transformasi Perikanan
Gubernur Sherly memaparkan empat pilar transformasi perikanan, di antaranya adalah Modernisasi Armada yang fokus pada kapal 5-20 GT, Revitalisasi Rantai Dingin dengan memperkuat cold storage dan pabrik es, serta Hilirisasi dan Offtaker untuk memastikan harga ikan stabil. Selain itu, investasi sehat akan diciptakan melalui skema bagi hasil yang adil.
Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, menyatakan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, potensi laut Maluku Utara bisa menghasilkan pendapatan signifikan. Proyek tambak udang vaname seluas 10.000 hektar, misalnya, diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan bersih hingga Rp45 triliun.
Masukan dari Akademisi
Diskusi juga diisi oleh masukan dari akademisi seperti Prof. Dr. M. Irfan Koda, yang mendorong budidaya rumput laut dan ikan nila, serta Prof. Dr. Djanib Ahmad, yang menyoroti pentingnya aspek sosiologis dalam program pemerintah. Isu stunting di desa pesisir juga diangkat, mengingat pentingnya asupan protein dari hasil laut.
Moderator Dr. Thamrin A. Ibrahim menutup diskusi dengan pernyataan dari Sekretaris Daerah Samsuddin A. Kadir yang menyatakan kesiapan seluruh OPD untuk mendukung transisi ke ekonomi biru yang berkelanjutan. Keberhasilan kebijakan ini tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari kesejahteraan anak-anak nelayan yang diharapkan dapat bersekolah lebih tinggi.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
.png)
4 hours ago
2















































