Lima Rekomendasi SCI agar Rantai Pasok Tetap Tangguh Hadapi Disrupsi Global

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyampaikan supply chain atau rantai pasok yang tangguh bukanlah yang tidak pernah terganggu, melainkan yang mampu mendeteksi risiko lebih awal, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak serendah mungkin.

SCI, lanjut dia, merekomendasikan lima pilar ketahanan, yakni risk governance, visibility, flexibility, collaboration, dan continuous improvement.

"Implementasinya mencakup pemetaan risiko end-to-end, prioritisasi berdasarkan dampak bisnis, standard operating procedure (SOP) kontingensi, early warning system, serta digital control tower," ujar Setijadi dalam CKB Supply Chain Forum 2026 bertema Resilient Supply Chain: Navigating Global Disruption Through Logistics Collaboration di Soehanna Hall, The Energy Tower SCBD, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Subdirektorat Registrasi Kepabeanan, Program Prioritas, dan Authorized Economic Operator (AEO), Direktorat Teknis Kepabeanan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, M Yahyakan, memaparkan pembaruan ketentuan impor dan ekspor, termasuk PMK 4/2025, PMK 25/2025, PMK 92/2025, dan PER-8/2025. Yahyakan juga menekankan peran AEO dalam meningkatkan keamanan, kepatuhan, dan kelancaran rantai pasok.

"Hingga 31 Mei 2026, terdapat 210 perusahaan AEO," ucap Yahyakan.

Yahyakan mengatakan rata-rata customs clearance MITA-AEO di Tanjung Priok pada 2025 mencapai 3,6 jam, dibandingkan 8,4 jam untuk seluruh importir. Ia mengatakan fasilitas AEO mencakup simplifikasi prosedur, pemeriksaan minimal, prenotification, kemudahan pembayaran dan konsultasi, serta pengakuan internasional.

Presiden Direktur PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics), Iman Sjafei, mengatakan volatilitas energi dan nilai tukar mempertegas besarnya ketidakpastian yang dihadapi rantai pasok. Pada kuartal I 2026, kata dia, harga minyak Brent sempat melonjak 93 persen, kemudian terkoreksi 36 persen hingga 24 Juni dan turun 22 persen hanya dalam satu bulan. Sementara itu, kurs pasar sempat mencapai Rp 18.234 per dolar AS.

"Dibandingkan posisi Rp 16.750 pada 26 Februari 2026, kebutuhan rupiah untuk memperoleh satu dolar AS meningkat sekitar 8,9 persen," ujar Iman.

Bagi perusahaan dengan kewajiban satu juta dolar AS, perubahan kurs tersebut menambah kebutuhan dana sekitar Rp 1,484 miliar. Iman mengatakan ketegangan geopolitik telah menciptakan hambatan nyata pada jalur perdagangan dan arus barang.

"Kolaborasi diperlukan untuk memitigasi risiko, menghadapi skenario terburuk, dan memastikan distribusi tetap berjalan melalui solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi," kata Iman.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |