Lihat Langsung Dampak Karhutla, Kunjungan Wapres ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Dinilai Penting

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah dinilai memberi kesempatan bagi pemerintah untuk melihat langsung dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa.

CEO BOSF, Jamartin Sihite, mengatakan Wapres melihat kondisi orangutan di tengah paparan asap, termasuk satwa yang mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan nebulizer.

“Kami berpikir, seeing is believing,” kata Jamartin dalam siaran persnya, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, kunjungan langsung memberi gambaran yang lebih nyata mengenai tantangan yang dihadapi lembaga konservasi ketika karhutla terjadi.

Jamartin menyatakan BOSF harus meningkatkan intensitas perawatan ketika kualitas udara memburuk. Beberapa orangutan memiliki masalah pernapasan dan kondisi lain yang membuat mereka lebih rentan terhadap perubahan cuaca dan asap.

Penanganannya pun tidak sederhana. Nebulizer, misalnya, tidak dapat digunakan dengan masker seperti pada manusia sehingga penggunaan obat menjadi lebih banyak.

Selain itu, orangutan yang berada di kandang tidak memiliki banyak pilihan ketika asap datang. BOSF kemudian memasang pipa dan sprinkler untuk membantu menurunkan suhu serta mengurangi partikel polusi di sekitar kandang.

Dalam konteks tersebut, Jamartin mengapresiasi perhatian Wapres terhadap persoalan satwa.

“Beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” ujarnya.

Jamartin mengatakan orangutan bukan satu-satunya satwa yang menghadapi ancaman akibat karhutla. Kondisi orangutan, menurutnya, dapat menjadi simbol dari persoalan yang juga dialami satwa liar lain di dalam hutan.

Meski demikian, ia berharap perhatian pemerintah berlanjut dalam bentuk kebijakan yang lebih sistematis.

Jamartin menilai pemerintah perlu memperkuat early warning system sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum kondisi memasuki tahap krisis.

Menurutnya, pengalaman karhutla yang terus berulang seharusnya menjadi dasar untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih rapi.

Ia mengusulkan agar kondisi cuaca, lama periode tanpa hujan, serta tingkat kerawanan menjadi indikator untuk menentukan peningkatan status dan langkah pencegahan.

Jamartin juga menekankan perlunya dukungan anggaran kebencanaan dan sistem yang lebih efektif.

Di sisi lain, perlindungan habitat tidak boleh dilepaskan dari penanganan karhutla.

“Kami berharap kita sama-sama menjaga areal-areal hutan yang masih bagus dan menjadi habitat satwa liar, bukan cuma orangutan,” katanya.

Menurut Jamartin, kawasan hutan dan satwa yang hidup di dalamnya merupakan aset yang harus dijaga.

“Karena ini aset negara, ini aset bangsa,” ujarnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |