Ketika Dapur dan Kebun tidak Lagi Terpisah

3 hours ago 3

Image Astri Harnov Putri

Gaya Hidup | 2026-06-23 12:42:23

Oleh : Astri H Putri - Dosen Universitas Andalas

Ada momen kecil yang mungkin pernah kamu alami: sedang masak, butuh segenggam kemangi, tapi kulkas kosong. Terpaksa keluar beli — padahal yang dibutuhkan hanya beberapa lembar daun, sementara yang dibeli satu ikat penuh dan sisanya layu di laci kulkas sebelum sempat dipakai. Momen kecil itu, kalau dipikir ulang, mengandung sesuatu yang cukup mengganggu: kita sudah jauh sekali dari makanan yang kita makan.

Tidak perlu pergi jauh ke masa lalu. Nenek atau orang tua kita di kampung kemungkinan besar masih punya kebiasaan ini: jalan sebentar ke halaman belakang, petik daun salam, cabut bawang daun, ambil cabai secukupnya — baru masak.

Tidak ada perjalanan ke supermarket. Tidak ada plastik kemasan. Tidak ada sayuran yang sudah tiga hari di rantai pendingin sebelum sampai ke tangan kita.

Hubungan antara dapur dan kebun dulu bersifat langsung, intim, dan alami. Entah kapan keduanya mulai terpisah — dan sebagian dari kita mulai merindukan kedekatan itu kembali.

Kitchen Garden

Di berbagai kota Indonesia, semakin banyak orang — terutama yang tinggal di rumah dengan pekarangan sempit atau bahkan apartemen — yang mulai menanam sendiri bahan-bahan dapur yang paling sering mereka pakai.

Bukan dalam skala kebun besar. Bukan dengan niat menjadi petani. Hanya beberapa pot di dekat jendela dapur, satu rak kecil di teras, atau botol-botol plastik bekas yang digantung di dinding.

Yang ditanam pun bukan tanaman yang susah: kemangi, daun bawang, seledri, mint, cabai rawit, kunyit, jahe. Tanaman-tanaman yang hampir selalu muncul dalam resep masakan Indonesia sehari-hari — dan justru karena itu sering habis di waktu yang tidak terduga.

Konsepnya punya nama dalam bahasa Inggris: kitchen garden. Kebun dapur. Bukan kebun untuk dipamerkan, bukan kebun untuk dijual hasilnya — tapi kebun yang benar-benar berfungsi sebagai perpanjangan dapur itu sendiri.

Mengapa Hal Ini Relevan Disaat Sekarang?
Beberapa hal yang — menurut pengamatan umum, bukan data riset spesifik yang saya bisa kutip — tampaknya mendorong tren ini:

Memasak di rumah meningkat. Pasca pandemi, banyak orang yang mulai atau kembali memasak sendiri. Ketika memasak jadi kegiatan rutin, kebutuhan akan bahan segar yang selalu tersedia juga meningkat.

Kesadaran soal kualitas pangan. Semakin banyak orang yang mulai memperhatikan dari mana makanannya berasal — apakah ada pestisida berlebihan, berapa lama sayuran itu sudah dipanen sebelum sampai ke tangan mereka. Menanam sendiri memberi kendali penuh atas hal-hal itu.

Terapi tanpa nama. Banyak yang memulai berkebun kecil-kecilan bukan karena ingin hemat atau ingin sehat, tapi karena merasa butuh sesuatu yang tumbuh — sesuatu yang merespons perhatian mereka. Merawat tanaman, melihat tunas baru muncul, memanen daun pertama — ada kepuasan yang sulit dijelaskan dengan logika ekonomi.

Mulai Dari Mana?

Kabar baiknya: kitchen garden adalah salah satu bentuk berkebun yang paling mudah dimulai, justru karena skalanya kecil dan tanamannya familiar.

Beberapa tanaman dapur yang paling mudah untuk pemula — berdasarkan pengetahuan umum tentang perawatan tanaman, bukan rekomendasi hortikultura formal:

Daun bawang dan seledri bisa ditanam ulang dari sisa batang yang biasanya dibuang. Rendam pangkalnya di air selama beberapa hari sampai berakar, lalu pindahkan ke pot berisi tanah. Dalam satu hingga dua minggu, daun baru sudah bisa dipetik.

Kemangi tumbuh cepat dan tidak rewel selama mendapat cukup sinar matahari. Satu pot kecil di ambang jendela yang terkena cahaya pagi sudah cukup.

Cabai rawit butuh waktu lebih lama hingga berbuah, tapi sekali berbuah bisa terus produktif berbulan-bulan. Cocok ditanam di pot yang sedikit lebih besar.

Jahe dan kunyit bisa ditanam dari rimpang sisa dapur yang mulai bertunas. Tanam di pot dalam, beri tanah yang gembur, dan biarkan tumbuh perlahan.

Tidak perlu sempurna dari awal. Satu dua pot saja sudah cukup untuk merasakan bedanya — betapa berbeda rasanya memasak dengan daun yang baru dipetik tiga menit lalu dibanding yang sudah dua hari di kulkas.

Kitchen garden tidak akan menggantikan kunjungan ke pasar. Ia tidak dirancang untuk itu.

Yang ia tawarkan sesuatu yang berbeda: cara untuk kembali mengenal makanan yang kita makan — dari mana asalnya, bagaimana ia tumbuh, berapa banyak perhatian yang dibutuhkan sebelum bisa dipetik.

Di tengah kehidupan yang serba instan dan serba terpisah dari prosesnya, ada nilai tersendiri dari hal sesederhana itu.

Dapur dan kebun tidak harus jadi dua dunia yang berbeda. Dengan beberapa pot dan sedikit perhatian, keduanya bisa kembali menjadi satu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |