REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV — Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, mengatakan, Amerika Serikat (AS) belum menuntut Israel untuk menarik pasukannya dari Lebanon. Penghentian serangan ke Lebanon oleh Israel diketahui tercakup dalam persyaratan yang diajukan Iran untuk mengunci kesepakatan gencatan senjata dengan AS.
“Kami telah mengumumkan bahwa dalam hal apa pun kami tidak akan menarik diri dan, hingga saat ini – dan ini adalah pencapaian diplomatik – tidak ada tuntutan Amerika agar Israel menarik diri dari Lebanon,” kata Katz dalam sebuah wawancara di Tel Aviv, Rabu (24/6/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Katz kemudian sempat ditanya apakah negaranya akan menaati jika AS meminta pasukan Israel angkat kaki dari Lebanon. Dia mengatakan, telah menyampaikan kepada Menhan AS Pete Hegseth bahwa tentara Israel berada di Lebanon untuk melindungi warga Israel yang tinggal di wilayah utara. Menurut Katz, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menjelaskan hal yang sama kepada Presiden AS Donald Trump.
Saat ini, Israel dan Lebanon tengah terlibat perundingan untuk mengakhiri konflik di negara tersebut. Negosiasi kedua negara berlangsung di Washington dan dimediasi oleh AS.
Saat putaran kelima pembicaraan Israel-Lebanon dimulai di Washington pada Selasa (23/6/2026), Presiden Lebanon Joseph Aoun membuat pernyataan yang menegaskan bahwa dia menolak pendudukan Israel di wilayah selatan negaranya. Aoun juga menolak intervensi asing dalam urusan negaranya. Komentarnya tersebut dibaca sebagai pesan implisit kepada kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Sementara itu, Pemerintah Iran telah berulang kali menyatakan bahwa perdamaian di Lebanon merupakan pilar fundamental untuk mencapai kesepakatan definitif dengan Washington. Jika hal tersebut terwujud, kesepakatan gencatan senjata terancam buyar.
Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Hal itu menyusul serangan Israel ke Lebanon.
Padahal dua hari sebelumnya, yakni pada Kamis (18/6/2026), Iran mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan dengan AS guna mengakhiri konflik di antara mereka yang dimulai pada akhir Februari 2026. Dalam kesepakatan tersebut, terdapat klausul bahwa kesepakatan gencatan senjata harus mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.
Israel mulai menggempur Lebanon pada 2 Maret 2026. Agresi dimulai setelah kelompok Hizbullah, sebagai bentuk dukungannya kepada Iran dan merespons wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 lalu, ikut menembakkan roket ke wilayah Israel. Sejak saat itu, Israel dan Hizbullah terlibat konfrontasi.
Menurut otoritas Lebanon, agresi Israel telah membunuh lebih dari 4.100 warga di negara tersebut. Saat ini Israel juga membangun zona keamanan sepanjang 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan di sepanjang perbatasan dengan Israel.
sumber : Antara
.png)
8 hours ago
4

















































