Robby Effendi
Olahraga | 2026-06-23 22:53:43
Gambar Diolah Oleh Generatif AI
Mari jujur sebentar. Tidak semua orang memilih tim favorit karena sejarah, prestasi, atau filosofi bermainnya.
Ada yang mendukung Brasil karena warna kuningnya terlihat paling mencolok di layar televisi. Ada yang menyukai Belanda karena oranye yang berbeda dari tim lain.
Ada yang jatuh cinta pada Italia karena biru yang elegan. Bahkan ada yang mendukung Argentina karena kombinasi biru langit dan putihnya terasa begitu khas.
Sering kali, cinta pertama pada sebuah tim nasional justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: jersey.
Saat masih kecil, kita mungkin belum memahami taktik, formasi, atau statistik pemain. Kita belum mengenal istilah penguasaan bola, expected goals, atau pressing tinggi. Yang kita lihat hanyalah warna-warna yang berlari di lapangan.
Dan anehnya, warna-warna itu mampu menciptakan ikatan yang bertahan puluhan tahun.
Filsuf Ludwig Wittgenstein pernah berkata, "The limits of my language mean the limits of my world." Mungkin dalam konteks ini, warna menjadi bahasa pertama kita sebelum kata-kata. Kita belum bisa menjelaskan mengapa kita menyukai sebuah tim, tetapi kita tahu bagaimana rasanya melihat warna tertentu.
Johann Wolfgang von Goethe dalam teorinya tentang warna juga menulis bahwa warna bukan sekadar fenomena fisik, melainkan pengalaman emosional. Kuning bisa terasa hangat dan hidup, biru bisa terasa tenang dan dalam. Maka tidak heran jika pilihan kita sering kali lahir dari perasaan, bukan dari pengetahuan.
Karena itu, setiap Piala Dunia, peluncuran jersey baru selalu menjadi perhatian tersendiri. Bukan hanya bagi pecinta mode atau kolektor, tetapi juga bagi para penggemar sepak bola. Sebab sebuah jersey tidak pernah sekadar kain.
Di dalamnya ada identitas, sejarah, dan kenangan.
Bahkan sering kali, warna-warna itu dipilih bukan secara kebetulan.
Para desainer olahraga memahami bahwa warna bekerja bukan hanya pada mata, tetapi juga pada emosi. Merah sering diasosiasikan dengan keberanian dan dominasi. Biru menghadirkan kesan tenang dan elegan. Oranye memancarkan energi dan kreativitas. Sementara putih identik dengan kesederhanaan, kejernihan, dan presisi.
Namun yang lebih menarik, warna jersey tim nasional sering kali menyimpan cerita sejarah yang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Italia, misalnya, dikenal dunia dengan julukan Azzurri. Padahal bendera mereka berwarna hijau, putih, dan merah. Warna biru yang mereka kenakan merupakan warisan Wangsa Savoy, dinasti yang berperan dalam penyatuan Italia modern.
Belanda juga demikian. Tidak ada warna oranye dalam bendera mereka. Namun warna itu diambil dari Willem van Oranje, tokoh yang memimpin perjuangan kemerdekaan Belanda. Hingga hari ini, oranye tetap menjadi simbol kebanggaan nasional mereka.
Jerman mengenakan putih sebagai penghormatan terhadap warisan Kerajaan Prusia. Jepang memilih biru yang kemudian dikenal sebagai Samurai Blue, sebuah warna yang awalnya lahir dari kebetulan sejarah tetapi kemudian dipercaya membawa keberuntungan.
Artinya, ketika kita melihat sebuah jersey, kita sebenarnya sedang melihat lebih dari sekadar desain.
Di sana ada sejarah, identitas, simbol, bahkan cerita tentang bagaimana sebuah bangsa ingin dikenang.
Mungkin itu sebabnya sebuah jersey mampu bertahan jauh lebih lama daripada tren mode. Ia menjadi wadah bagi memori kolektif jutaan orang.
Mungkin itulah sebabnya kabar bahwa Liv Bolung, desainer asal Indonesia, ikut berperan dalam pengembangan desain jersey Brasil untuk Piala Dunia 2026 terasa begitu menarik.
Di balik sehelai jersey yang akan dipakai jutaan penggemar di seluruh dunia, ternyata ada sentuhan kreativitas dari seorang anak bangsa.
Namun yang lebih menarik lagi, pekerjaan seorang desainer jersey bukan sekadar memilih warna atau membuat pola yang indah. Mereka sedang merancang simbol. Sebuah identitas visual yang akan dikenakan pemain di lapangan, dipakai suporter di tribun, dan mungkin disimpan bertahun-tahun sebagai kenangan.
Dan siapa tahu, di antara jutaan anak yang menonton Piala Dunia tahun ini, ada seseorang yang mulai menyukai Brasil bukan karena trofi, bukan karena statistik, bahkan bukan karena pemainnya.
Melainkan karena melihat sebuah jersey kuning yang terlihat begitu hidup di bawah sorot lampu stadion.
Seperti kata Wassily Kandinsky, "Color is a power which directly influences the soul."
Warna bekerja diam-diam, tetapi dampaknya menetap lama. Karena kadang-kadang, dalam sepak bola, kita memang memilih jerseynya terlebih dahulu. Baru kemudian jatuh cinta pada timnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
2





































