REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Analisis terbaru menunjukkan Jerman menjadi eksportir sampah plastik terbesar di dunia pada 2025. Negara itu mengirimkan sekitar 810 ribu ton sampah plastik ke luar negeri. Berdasarkan analisis Watershed Investigations dan Basel Action Network, sebagian besar sampah Jerman dikirim ke Turki, Malaysia, dan Indonesia. Industri daur ulang di negara-negara tersebut kerap dikaitkan dengan pembuangan ilegal, pembakaran, dan pelanggaran hak buruh.
"Pesisir Laut Tengah Turki menjadi pantai yang paling tercemar di seluruh Laut Tengah karena sampah plastik dari pabrik daur ulang," kata biolog maritim asal Turki, Sedat Gundogdu, yang terlibat dalam investigasi ini, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (1/5/2026).
Gundogdu mengatakan banyaknya sampah di pesisir itu membuat warga tidak bisa ke pantai. Negara-negara maju lain seperti Amerika Serikat (AS) dan China mengirim lebih sedikit sampah plastik karena mereka mengelolanya di dalam negeri melalui pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), insinerasi, atau daur ulang.
AS dan China tidak mendapatkan tekanan untuk mendaur ulang sampah seperti negara-negara Uni Eropa dan Inggris. AS mengekspor sekitar 385 ribu ton sampah pada 2025, menjadikannya eksportir sampah terbesar kelima di dunia. Sementara itu, pada 2024, China merupakan eksportir terbesar ke-18 di dunia.
Uni Eropa sudah sepakat untuk melarang ekspor sampah plastik ke negara-negara di luar kelompok negara maju OECD pada November 2026. Namun, saat ini masih banyak sampah yang dikirim ke negara-negara tersebut.
Saat ini, Turki menjadi negara yang paling banyak menerima sampah plastik dari Eropa. Larangan itu menimbulkan kekhawatiran semakin banyak sampah yang dikirim ke negara berkembang OECD seperti Turki dan negara-negara Eropa Timur yang kapasitas pengelolaan sampahnya masih lebih lemah dibandingkan negara-negara maju.
Gundogdu mengatakan infrastruktur pengelolaan sampah Turki sudah kewalahan dengan sampah domestik. "Negara itu sendiri menghasilkan 3,3 juta ton sampah plastik yang sudah dua kali lipat lebih banyak dari kapasitas daur ulangnya," kata Gundogdu.
Politisi Uni Eropa dari kelompok Aliansi Hijau, Sara Matthieu, mengatakan larangan ekspor sampah plastik menjadi "momen penting" bagi blok tersebut. Ia mengatakan Uni Eropa harus mulai bertanggung jawab atas sampahnya sendiri.
Namun, ia menyadari serangan kelompok konservatif dan ultra-kanan terhadap kebijakan-kebijakan hijau blok melemahkan kapasitas daur ulang Uni Eropa hingga 1 juta ton dalam beberapa tahun terakhir. Matthieu mengingatkan persoalan utamanya adalah menghasilkan plastik baru masih lebih murah dibandingkan daur ulang.
"Kita tahu tentang kegagalan pasar selama bertahun-tahun, tetapi Komisi Uni Eropa lalai dan tidak mengatasi akar masalah," katanya.
.png)
8 hours ago
5
















































