REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Kementerian Kehutanan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiagakan lebih dari 500 personel gabungan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama puncak musim kemarau 2026. Kesiapsiagaan diperkuat melalui apel kesiapsiagaan pengendalian karhutla 2026 di Bumi Perkemahan Indra Prastha, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (24/6/2026).
Apel tersebut diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra), Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Perum Perhutani.
Kegiatan itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Perhutani, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), kelompok perhutanan sosial, kader konservasi, mahasiswa pecinta alam, Pramuka Saka Wanabakti, akademisi, mitra pembangunan, hingga masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmika mengatakan, kesiapan personel, sarana prasarana, jalur koordinasi, dan respons awal di lapangan perlu diperkuat sebelum risiko karhutla meningkat pada puncak musim kemarau.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Jawa Tengah juga memiliki pengalaman pada 2023 ketika fenomena El Nino berkontribusi terhadap kebakaran hutan dan lahan seluas 9.965,59 hektare.
"Jawa Tengah harus siap sebelum api muncul. Apel ini menjadi tanda bahwa seluruh unsur sudah harus bergerak, mulai dari pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Perhutani, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, MPA, sampai masyarakat sekitar hutan. Yang kita bangun bukan hanya barisan apel, tetapi kesiapan kerja di lapangan," kata Heru dalam siaran pers Kemenhut.
Dalam rangkaian kegiatan, Balai Dalkarhut Jabalnusra bersama Manggala Agni dan MPA menampilkan simulasi pemadaman karhutla serta pengecekan sarana dan prasarana pengendalian kebakaran. Simulasi tersebut memperlihatkan kesiapan personel, penggunaan peralatan, koordinasi tim, serta langkah respons awal ketika ditemukan indikasi kebakaran.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Thomas Nifinluri mengatakan, pengendalian karhutla harus bertumpu pada deteksi dini dan respons cepat.
"Kunci pengendalian karhutla ada pada pencegahan dini. Manggala Agni bersama MPA memperkuat patroli, pemantauan titik panas, kesiapan sarana prasarana, dan respons awal. Api kecil harus cepat diketahui, cepat dilaporkan, dan cepat ditangani sebelum menjadi kebakaran besar," ujar Thomas.
Menurut Thomas, karhutla tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, kualitas udara, ketersediaan sumber air, ekosistem, hingga aktivitas sosial ekonomi. Karena itu, pengendalian karhutla memerlukan keterlibatan berbagai pihak, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Inspektur Wilayah I Kementerian Kehutanan sekaligus Ketua Tim Pendamping Satgas Supervisi Pengendalian Kebakaran Hutan Lingkup Kementerian Kehutanan Tahun 2026 untuk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY, Sultrarini Rahayu, mengatakan pengendalian karhutla harus dilakukan secara kolaboratif.
Menurut Sultrarini, upaya pencegahan dan penanganan kebakaran tidak dapat hanya dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah daerah, BNPB, TNI, Polri, MPA, masyarakat sekitar hutan, dan berbagai pihak terkait lainnya.
Sementara itu, Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra Bambang Setyo Antoko mengatakan, langkah pencegahan terus diperkuat melalui patroli terpadu, pembinaan MPA, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemantauan titik panas, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah atau sisa aktivitas di sekitar kawasan hutan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api.
Menurut Kementerian Kehutanan, keberhasilan pencegahan karhutla sangat bergantung pada kewaspadaan sejak dini, kecepatan penyampaian informasi, respons awal di lapangan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kawasan hutan selama musim kemarau.
.png)
5 hours ago
2

















































