
Oleh : Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penutupan Masjid Al-Aqsa sejak awal eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar kebijakan keamanan. Ia adalah simbol. Simbol dari sebuah zaman di mana geopolitik tidak lagi berdiri di ruang hampa, tetapi bersinggungan langsung dengan emosi keagamaan, identitas kolektif, dan kesadaran peradaban.
Di saat dunia tersedot pada konflik besar antar kekuatan global, perhatian publik mendadak mengerucut pada satu peristiwa: jatuhnya sebuah pesawat Amerika di wilayah Iran, dan nasib pilotnya yang melontarkan diri. Dalam waktu singkat, seluruh mesin militer dan intelijen dikerahkan. Operasi penyelamatan digelar dengan risiko besar. Dunia mengikuti dengan tegang. Nasib satu orang menjadi indikator kehormatan sebuah negara.
Fenomena ini sesungguhnya memperlihatkan sesuatu yang mendasar: negara modern memandang setiap warganya sebagai representasi kehormatan kolektif. Kita pernah menyaksikan bagaimana Israel menukar lebih dari seribu tahanan Palestina demi satu tentaranya, Gilad Shalit.
Demikian pula di tengah genosida Gaza, kelompok Hamas berhasil memaksa entitas Zionis untuk membebaskan ribuan tahanan Palestina untuk ditukar dengan tawanan zionis yang ditangkap pada 7 Oktober 2023. Di sana, individu bukan sekadar angka, melainkan simbol harga diri nasional.
Namun kontras yang mencolok justru terlihat ketika kita menoleh pada ribuan tahanan Palestina hari ini. Di tengah konflik yang memanas, bahkan muncul ketok palu kebijakan di Knesset Israel yang membuka ruang bagi eksekusi mereka. Isu ini tidak mengguncang dunia sebagaimana nasib seorang pilot. Ia tenggelam di tengah hiruk pikuk geopolitik global.
Dalam Islam, seorang tawanan bukan sekadar individu, tetapi merepresentasikan kehormatan umat, batas kedaulatan dan masa depan peradaban.
Dalam khazanah Islam dikenal kaidah: “Perang bisa ditabuh demi membebaskan seorang tawanan.”
Dalam Islam, membebaskan tawanan adalah kewajiban besar.
Diriwayatkan dari Umar ibn al-Khattab: “Membebaskan satu orang Muslim dari tangan musuh lebih aku cintai daripada seluruh Jazirah Arab.”
Para ulama juga menegaskan demikian seperti dinukil dari Imam Ibn Hajar al-Haytami: "wajib bangkit membebaskan tawanan," dan Imam Al-Qurtubi: "membebaskan tawanan adalah kewajiban, meski baitul mal habis."
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
6 hours ago
5
















































