Presiden AS Donald Trump saat KTT NATO 2026 di Ankara, Turki, 8 Juli 2026. KTT NATO berlangsung pada 7-8 Juli.
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA – Para pejabat Turki menduga bahwa laporan intelijen Israel—yang menyebutkan Iran berencana membunuh Presiden AS Donald Trump saat KTT NATO di Ankara bulan lalu—merupakan taktik untuk menggagalkan perundingan dengan Teheran. Informasi palsu itu memaksa Trump melarikan diri dengan menaiki truk katering.
Middle East Eye mengutip para para pejabat Turki yang menyatakan keyakinan mereka bahwa laporan intelijen Israel tersebut kemungkinan besar hanyalah taktik pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Tujuannya untuk menampilkan diri sebagai pihak yang melindungi Trump, menggagalkan perundingan dengan Iran, serta merusak hubungan yang tampak erat antara Trump dan Erdogan.
Dalam pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Trump berulang kali menyatakan bahwa perang dengan Iran telah berakhir dan mengungkapkan harapan terkait negosiasi, menurut keterangan seorang sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Sikap itu sangat bertolak belakang dengan agenda Netanyahu, yang mendesak dimulainya kembali perang, termasuk serangan yang lebih berat terhadap infrastruktur energi Iran serta kampanye pembunuhan baru yang menargetkan para pemimpin Iran.
Dalam pertemuan dengan kepala negara Turki sehari sebelum dugaan rencana pembunuhan itu, Trump juga mengisyaratkan kesiapannya untuk mencabut sanksi yang dijatuhkan terhadap Turki akibat pembelian sistem rudal S-400 buatan Rusia pada tahun 2019, serta menjual jet tempur F-35 kepada Ankara.
Netanyahu sendiri sangat menentang penjualan F-35 ke Ankara dengan alasan bahwa hal itu akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut dan mengikis "Keunggulan Militer Kualitatif" Israel.
"Tentu saja, kami menanggapi laporan tersebut dengan sangat serius dan berupaya membantu rekan-rekan kami dari Amerika semaksimal mungkin," ujar seseorang yang mengetahui masalah ini kepada MEE. "Namun, bagi kami sangat jelas bahwa laporan itu sama sekali tidak benar."
Meskipun jaringan Iran sebelumnya pernah menculik atau membunuh para pembangkang Iran di Turki, Teheran tidak pernah berani melancarkan operasi canggih di sana yang melibatkan sarana lebih dari sekadar senjata api biasa.
Kronologi
.png)
11 hours ago
8














































