REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan rencana kerja Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI. Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi VII DPR, Saleh Partaoan Daulay, Widiyanti menegaskan komitmennya menjaga kinerja sektor pariwisata tetap solid, di tengah tantangan global.
Widiyanti mengakui, penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 menyebabkan gangguan penerbangan dari enam hub utama penerbangan internasional Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat. Enam kota itu berkontribusi pada pembatalan 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, dan Medan.
Dia menyebut, situasi itu diperkirakan menyebabkan potensi kehilangan sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara dengan potensi devisa yang tidak terealisasi mencapai Rp 2,04 triliun. "Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi agar target kinerja pariwisata nasional tetap terjaga," jelas Widiyanti di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Selain itu, tekanan terhadap sektor pariwisata juga muncul dari kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah dunia dari 67 dolar AS per barel menjadi lebih 102 dolar AS per barel (naik 52 persen), dalam kurun waktu satu bulan. "Kondisi ini memicu kenaikan biaya transportasi melalui penerapan fuel surcharge oleh berbagai maskapai internasional serta peningkatan tarif moda transportasi lintas negara," kata Widiyanti.
Menghadapi situasi tersebut, Widiyanti melanjutkan, Kemenpar telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi untuk menjaga pencapaian target 16-17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026. Strategi tersebut antara lain melakukan pivot pasar ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul, serta memperkuat kampanye digital internasional.
Ketua Komisi VII DPR Saleh Partaoan Daulay mengapresiasi strategi mitigasi yang disiapkan Kemenpar dalam menghadapi perkembangan dinamika global. Meski begitu, pihaknya meminta pengenguatan konektivitas dan pergerakan wisatawan nusantara di tengah situasi ketidakpastian global pada saat ini.
Anggota Komisi VII DPR Putra Nababan meminta Kemenpar untuk mempelajari pola shifting akibat perubahan strategi tersebut. Pasalnya, ia mendapati ada perbedaan perilaku antara wisatawan yang long haul (Eropa dan Amerika) dan medium haul (Asia Timur dan Asia Selatan) dan short haul (ASEAN).
.png)
10 hours ago
5

















































