Golden Mosque, Corong Islam di Filipina

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA – Di tengah hiruk pikuk kawasan Quiapo, Manila, berdiri sebuah bangunan berlapis warna emas yang memantulkan cahaya matahari tropis Filipina. Kubahnya bersinar, seakan menjadi penanda harapan bagi umat Islam yang hidup sebagai minoritas di negeri mayoritas Katolik ini. Itulah Golden Mosque, masjid yang menjadi saksi perjalanan panjang Islam di Filipina.

Langkah kaki Salman Al Farisi, terasa lebih pelan saat pertama kali memasuki pelatarannya, Ahad (22/2/2026). Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Sebagai Dai Ambassador Dompet Dhuafa yang tengah bertugas di Filipina, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia sedang menziarahi sejarah, menyusuri jejak dakwah yang telah berusia ratusan tahun.

Islam bukanlah agama baru di Filipina. Islam hadir jauh sebelum kolonialisme Barat datang.

Para pedagang dan dai dari wilayah Nusantara khususnya dari Kesultanan Sulu dan Mindanao, telah membawa cahaya Islam ke wilayah selatan Filipina sejak abad ke-14. Bahkan sebelum bangsa Spanyol menginjakkan kaki di Manila, komunitas Muslim telah membangun peradaban, pemerintahan, dan jaringan perdagangan yang kuat.

Namun perjalanan sejarah tidak selalu mudah. Masa kolonial Spanyol dan kemudian Amerika menjadi periode panjang ujian bagi umat Islam di Filipina.

Mereka berjuang mempertahankan identitas, tanah, dan keyakinan di tengah tekanan politik dan sosial. Di tengah dinamika itulah kemudian berdiri Golden Mosque sebuah simbol eksistensi dan kebangkitan.

Golden Mosque dibangun pada tahun 1976, pada masa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos. Masjid ini awalnya dipersiapkan untuk menyambut kunjungan pemimpin Libya, Muammar khadafi. Namun kunjungan tersebut tidak pernah terlaksana. Meski demikian, masjid ini tetap berdiri dan menjadi pusat aktivitas keagamaan umat Islam di Manila.

“Sejak saat itu, Golden Mosque menjadi jantung spiritual komunitas Muslim di ibu kota Filipina ini. Di sinilah azan berkumandang setiap hari, menembus padatnya kota Manila. Di sinilah anak-anak belajar mengaji, para dai menyampaikan tausiyah, dan umat menautkan harapan di setiap sujud. Tentu di sinilah peradaban Islam di Filipina terbangun,” kata Salman, kepada tim Dompet Dhuafa.

Salman kembali menegaskan, bagi diaspora Indonesia dan komunitas Muslim internasional, masjid ini juga menjadi titik temu ukhuwah lintas bangsa. Masjid ini bukan sekadar bangunan, melainkan rumah bagi jiwa-jiwa yang merindukan kedamaian.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |