Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

4 hours ago 3

Image Indah Kartika Sari

Agama | 2026-06-25 21:47:36

Generasi Z hari ini tengah menghadapi ujian zaman yang tidak main-main. Berbagai survei dan pemberitaan belakangan ini secara konsisten menyoroti satu realitas yang memprihatinkan: Generasi Z di Indonesia adalah kelompok demografi yang paling banyak mengalami kecemasan (anxiety) dan gangguan kesehatan mental. Fenomena ini bukanlah isapan jempol belaka. Di ambang krisis kesehatan mental, anak muda zaman sekarang tampak semakin rentan terhadap depresi. Faktor pemicunya pun sangat beragam dan kompleks, mulai dari ilusi kesempurnaan hidup akibat pengaruh media sosial, tekanan sosial yang tak berujung, hingga tuntutan akademik dan gaya hidup yang mencekik.

Lebih jauh lagi, krisis ini bukanlah persoalan domestik semata, melainkan menggejala di seluruh dunia. Ratusan juta Gen Z di berbagai belahan bumi dilaporkan menganggur dan berada dalam bayang-bayang ketidakpastian karier serta masa depan. Kondisi yang serba tidak pasti ini wajar saja membuat Gen Z tumbuh menjadi generasi yang jauh lebih skeptis dan pesimistis terhadap tatanan dunia yang ada. Namun, menariknya, dari rahim penderitaan dan skeptisisme tersebut, kini mulai muncul benih-benih gelombang resistensi. Kekecewaan yang terakumulasi ini diprediksi mampu menjadi titik balik kebangkitan bagi generasi yang kerap dianggap rapuh ini.

Jika kita telaah lebih dalam, akar masalah dari kecemasan akut yang melanda Gen Z sejatinya berhulu pada krisis multidimensi akibat rapuhnya tatanan dunia hari ini. Kecemasan tersebut bukanlah kelemahan bawaan (nature), melainkan hasil bentukan dari sistem yang melingkupi mereka. Potensi besar mereka sebagai pemuda secara sistematis dilemahkan oleh peradaban sekuleristik-kapitalistik. Sistem ini merusak jati diri pemuda dengan memaksakan standar kesuksesan yang melulu diukur dari materi, penampilan, dan validasi semu, mengabaikan esensi nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Di tengah himpitan sistemis ini, negara yang seharusnya hadir sebagai pengurus dan pelindung justru tampak abai. Hilangnya fungsi riayah (pengurusan) negara terhadap generasi muda membuat mereka harus berjuang sendirian di tengah lautan ketidakpastian ekonomi dan rusaknya tatanan sosial. Alih-alih dirangkul, didengar, dan difasilitasi, Generasi Z justru sering kali dipojokkan dan mendapat stigma buruk—dicap sebagai 'generasi strawberry', manja, atau serba salah oleh generasi-generasi di atasnya.

Kendati demikian, kecemasan, skeptisisme, dan sikap kritis Gen Z ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi ia merupakan bentuk keputusasaan, namun di sisi lain, sikap kritis dan penolakan terhadap tatanan yang rusak ini justru bisa menjadi peluang emas untuk perubahan. Resistensi yang mulai terbentuk adalah modal dasar bagi mereka untuk bangkit membongkar sistem kapitalisme yang gagal, menuju sebuah kondisi ideal yang benar-benar memanusiakan mereka.

Di sinilah peranan ideologi Islam menjadi sangat krusial. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah mabda (ideologi) yang hadir sebagai solusi komprehensif atas krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Penerapan syariat Islam secara kaffah dijamin akan mendatangkan Rahmatan lil 'Alamin. Dengan aturan yang berasal dari Sang Pencipta, Islam menawarkan pandangan hidup yang kokoh, melepaskan manusia dari perbudakan materi, serta membawa ketenangan rohani dan keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

Sejarah peradaban telah mencatat dengan tinta emas bagaimana karakter generasi pemuda pada masa kejayaan Islam. Mereka bukanlah generasi cemas atau pemuja eksistensi maya, melainkan pemuda dengan Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang sangat tangguh. Sebut saja Usamah bin Zaid, Muhammad Al-Fatih, hingga para ilmuwan Muslim yang tak hanya faqih dalam urusan agama, namun juga sangat cakap dalam berbagai bidang keilmuan, teknologi, dan kepemimpinan.

Ketangguhan generasi Islam ini juga tidak lepas dari dukungan penuh sistem negaranya. Dalam Islam, negara (Khilafah) memposisikan dirinya sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (pelindung) umat. Negara memiliki kewajiban mutlak untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia secara adil—mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga lapangan pekerjaan. Dengan jaminan riayah dari negara, generasi muda tidak akan lagi dihantui oleh kecemasan ekonomi, sehingga mereka bisa fokus berkarya dan membangun peradaban.

Oleh karena itu, ini adalah saatnya bagi Gen Z untuk mengarahkan gelombang resistensi mereka pada jalan yang benar. Membongkar depresi menjadi energi perlawanan ideologis. Pemuda hari ini harus disadarkan untuk mau mengkaji dan mengemban mabda Islam, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat yang tengah terpuruk. Dengan menjadikan Islam sebagai panduan gerak dan perjuangan, niscaya kebangkitan umat dan masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan, melainkan sebuah janji yang akan segera terwujud.

Link Berita:

· https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq

· https://www.kompas.id/artikel/di-ambang-krisis-kesehatan-mental-remaja

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |