Di Balik Ramainya Coffee Shop: Panggung Sosial Generasi yang Sedang Bertahan

2 hours ago 2

Image Bayu Muhammad Rizqi

Gaya Hidup | 2026-06-26 15:16:04

Seseorang mengambil foto latte menggunakan smartphone di meja kafe luar ruangan dengan laptop di dekatnya. Photo by Yaroslav Shuraev from Pexels https://www.pexels.com/photo/shallow-focus-photo-of-a-person-taking-photo-of-a-coffee-4472968/

“Ekonomi lagi susah.”$

Kalimat itu mudah ditemukan di media sosial, obrolan kampus, hingga percakapan keluarga. Harga kebutuhan pokok meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan ketidakpastian masa depan menjadi kecemasan yang akrab bagi banyak anak muda. Namun di saat yang sama, pemandangan lain juga sulit diabaikan: coffee shop tetap ramai.

Setiap sore hingga malam, kursi-kursi di berbagai coffee shop dipenuhi mahasiswa yang mengerjakan tugas, pekerja muda yang membuka laptop, hingga kelompok pertemanan yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol. Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan sederhana: jika ekonomi sedang sulit, mengapa coffee shop justru semakin ramai?

Sebagian orang menjadikan keramaian coffee shop sebagai bukti bahwa daya beli masyarakat masih kuat. Namun, membaca fenomena sosial hanya dari ramainya tempat nongkrong berisiko menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana. Dalam perspektif sosiologi, coffee shop bukan sekadar tempat membeli kopi. Ia telah berubah menjadi ruang sosial tempat individu mengelola identitas dan menampilkan dirinya di hadapan orang lain.

$ Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menyumbang lebih dari separuh struktur Produk Domestik Bruto (PDB)$ . Di satu sisi, hal ini menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat tetap berjalan. Namun, data tersebut tidak otomatis berarti setiap individu merasa aman secara ekonomi atau terbebas dari tekanan hidup.

Di sinilah teori dramaturgi Erving Goffman menjadi relevan. $ Dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life$ , Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial dapat dipahami layaknya pertunjukan teater. Individu adalah aktor yang memainkan peran tertentu di hadapan audiens. Ada “front stage”, yaitu ruang tempat seseorang menampilkan citra yang ingin dilihat orang lain, dan ada “back stage”, yaitu ruang pribadi tempat seseorang dapat menunjukkan kondisi sebenarnya.

Coffee shop pada era digital dapat dipahami sebagai salah satu bentuk front stage modern.

Di ruang tersebut, seseorang tidak hanya membeli minuman. Ia juga sedang menampilkan dirinya. Laptop yang terbuka, buku yang diletakkan di meja, foto secangkir kopi yang diunggah ke Instagram Story, hingga unggahan bertema “productive day” merupakan bagian dari presentasi diri yang berlangsung setiap hari.

Bukan berarti semua orang berpura-pura. Namun, setiap individu secara sadar maupun tidak sadar berusaha menunjukkan versi dirinya yang dianggap layak dilihat oleh lingkungan sosialnya.

Di tengah tekanan ekonomi, fenomena ini menjadi semakin menarik. Banyak anak muda yang mungkin sedang menghadapi kecemasan mengenai biaya kuliah, sulitnya mencari pekerjaan, atau ketidakpastian karier. Akan tetapi, ketika berada di coffee shop, mereka dapat menampilkan citra sebagai individu yang produktif, kreatif, sibuk, dan baik-baik saja.

Back stage mereka mungkin berisi kekhawatiran mengenai masa depan. Namun front stage yang tampil di ruang publik memperlihatkan ketenangan dan optimisme.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh media sosial. Jika dahulu panggung sosial hanya berlangsung secara tatap muka, kini panggung tersebut meluas ke dunia digital. Setiap unggahan memiliki audiens. Setiap foto memiliki pesan simbolik. Bahkan pilihan lokasi nongkrong pun dapat menjadi bagian dari identitas yang ingin ditampilkan.

Akibatnya, coffee shop tidak lagi sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang produksi citra sosial.

Namun akan keliru jika fenomena ini dipandang secara negatif semata. Ramainya coffee shop juga dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi generasi muda terhadap tekanan kehidupan modern. Di tengah padatnya aktivitas akademik, tuntutan produktivitas, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti, banyak anak muda membutuhkan ruang untuk bernapas.

Seorang wanita menangkap momen santai di kedai kopi dengan smartphone, menekankan media sosial dan usaha kecil. Photo by Arina Krasnikova from Pexels: https://www.pexels.com/photo/woman-photographing-with-smartphone-6016362/

$ Coffee shop menawarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan di rumah atau kampus$ : suasana yang nyaman, kesempatan untuk bertemu orang lain, dan rasa menjadi bagian dari komunitas. Dalam kondisi tertentu, secangkir kopi mungkin bukan tentang kopi itu sendiri, melainkan tentang kebutuhan akan kenyamanan psikologis.

Karena itu, keramaian coffee shop seharusnya tidak dibaca secara hitam-putih. Ia bukan semata-mata tanda kemakmuran, tetapi juga bukan bukti perilaku konsumtif yang irasional. Fenomena tersebut merupakan refleksi dari cara generasi muda menghadapi realitas sosial yang semakin kompleks.

Dari perspektif Pendidikan Sosiologi, fenomena ini menawarkan pelajaran yang berharga. Mahasiswa dan pelajar dapat belajar bahwa realitas sosial tidak selalu sesuai dengan apa yang tampak di permukaan. Keramaian sebuah tempat belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Begitu pula citra yang ditampilkan seseorang di media sosial belum tentu menggambarkan pengalaman hidupnya secara utuh.

Teori dramaturgi Goffman mengajarkan pentingnya melihat lapisan-lapisan makna di balik perilaku sosial. Sosiologi membantu kita memahami bahwa manusia tidak hanya bertindak berdasarkan kebutuhan ekonomi, tetapi juga kebutuhan akan pengakuan, identitas, dan interaksi sosial.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah mengapa coffee shop tetap ramai ketika ekonomi terasa berat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah keramaian itu menunjukkan bahwa generasi muda sedang menikmati kesejahteraan, atau justru sedang mencari tempat untuk bertahan di tengah berbagai tekanan yang tidak selalu terlihat?.

Oleh : Bayu Muhammad Rizqi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |