REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Rendahnya kesadaran deteksi dini penyakit tidak menular masih menjadi persoalan serius di masyarakat. Hal ini tercermin dari hasil pemeriksaan terhadap ratusan warga di Bogor yang menunjukkan sebanyak 73,8 persen peserta memiliki risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
Temuan ini muncul dari kegiatan skrining kesehatan yang diikuti 679 warga di Bogor, Jawa Barat, pada Ahad (12/4/2026). Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar masyarakat baru mengetahui kondisi kesehatannya setelah dilakukan pemeriksaan, bukan melalui kesadaran untuk melakukan cek rutin.
Secara lebih rinci, hasil skrining menunjukkan sebanyak 54,2 persen peserta memiliki kadar kolesterol di atas normal atau lebih dari 199 mg/dL. Selain itu, 42,1 persen terdeteksi mengalami tekanan darah tinggi, sementara 10,3 persen memiliki kadar gula darah sewaktu di atas 200 mg/dL.
Dokter Umum RS Mulia Pajajaran, dr Ghivarel Adriensa, menilai kondisi ini mencerminkan fenomena penyakit tanpa gejala atau silent disease yang semakin meluas di masyarakat. Menurut dia, banyak orang merasa sehat meskipun sebenarnya telah berada pada kondisi berisiko tinggi.
“Ada peserta dengan gula darah sangat tinggi, bahkan sampai 500 mg/dL, atau tekanan darah di atas 200, tapi tidak ada keluhan. Ini yang berbahaya, karena penyakit-penyakit ini sering tidak bergejala di awal. Makanya skrining itu sangat penting,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola hidup kurang aktif atau sedentary serta minimnya kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi tersebut.
“Kesehatan itu dinamis. Hari ini sehat, belum tentu besok. Jadi penting untuk menjaga pola makan sesuai pedoman, rutin olahraga tiga sampai lima kali seminggu, tidak merokok, serta mengelola stres,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan pengobatan saja tidak cukup. Upaya pencegahan melalui edukasi dan deteksi dini perlu diperkuat untuk menekan lonjakan penyakit tidak menular yang hingga kini masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.
Merespons tantangan tersebut, sektor swasta mulai mengambil peran dalam memperluas akses layanan kesehatan preventif. Salah satunya melalui program skrining kesehatan yang diinisiasi PT Dexa Medica melalui Dharma Dexa.
Manager Dharma Dexa, Mateus Ramidi, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses maupun kebiasaan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Padahal, kata dia, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kondisi yang lebih serius.
“Kami berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya cek kesehatan rutin agar risiko penyakit bisa diketahui lebih awal,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain layanan preventif, pihaknya juga berupaya memastikan ketersediaan obat generik berkualitas dengan jangkauan luas agar masyarakat dapat memperoleh pengobatan yang dibutuhkan. Ke depan, penguatan budaya deteksi dini dinilai menjadi krusial untuk menekan beban penyakit kronis di Indonesia, terutama di tengah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin tidak aktif.
.png)
11 hours ago
5















































