Dampak Perang AS-Israel Versus Iran terhadap Indonesia

2 hours ago 1

Menahan Tekanan Struktural Domestik dan Global Makin Dalam

Opini , Jurnalis-Senin, 02 Maret 2026 |07:27 WIB

Dampak Perang AS-Israel Versus Iran terhadap Indonesia

Pakar Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy (Foto: Dok Okezone)

(Oleh: Ichsanuddin Noorsy, Pakar Ekonomi Politik)

DUNIA kembali tersentak. Malam Ahad  yang biasanya merupakan waktu bersama keluarga dan orang tercinta, berubah menjadi cemas bahkan ketakutan. Itu karena serangan besar AS-Israel terhadap 24 provinsi di Iran bukan hanya mematikan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Pemimpin Garda Revolusi Iran juga mati. Korban jiwa sekitar 275 lebih dan lebih kurang 85 orang di antaranya adalah perempuan dan 40 anak-anak. Serangan dari dua negara ini tidak akan berhenti hingga Iran menghentikan proyek senjata nuklirnya dan patuh pada kemauan Washington. Iran membalas. Semua basis militer AS di Timur Tengah dibom, termasuk membom Tel Aviv.

Memang, sejak Khomeini, 1979 menjadi pemimpin tertinggi Iran, Washington gundah gulana. Iran terus melakukan perlawanan. Negara-bangsa berlatarbelakang petarung ini menegaskan siap berperang melawan AS. Kematian Khamenei tidak berarti perjuangan bangsa Iran terhenti. Sebelum wafat, Khamenei yang berkuasa sejak 4 Juni 1989 tak ingin mati secara biasa. Ia ingin mati syahid dan kematiannya tidak akan membuat perjuangan bangsa Iran sirna. Dengan lembut namun tegas ia menyatakan, perjuangan bangsa Iran akan dilanjutkan oleh kaum muda yang semangat dan daya juangnya luar biasa. Iran pun mengancam akan menggunakan senjata simpanannya.

Sementara seorang Jenderal Israel pun mengingatkan, agar Indonesia tidak ikut terlibat dalam perang ini. Sebagaimana juga pernyataan Perdana Menteri Tailan saat negeri gajah ini konflik dengan Kamboja, hal serupa disampaikan Mayor Jenderal Jacoob Ariel. Indonesia harus membenahi kebutuhan pokok warganya dan meningkatkan kemampuan durasi perangnya, ujarnya. Pernyataan realistis sekaligus menohok. Dan Presiden Prabowo Subianto tahu tentang itu. Justru karena itu menjadi layak jika Indonesia dengan modal konstitusinya mengecam serangan AS-Israel ke Teheran, bukan datang ke Teheran. Kunjungi Tel Aviv dan Washington. Katakan pada Trump dan Netanyahu, berhentilah melakukan kejahatan kemanusiaan. Karena perang pasti menimbulkan penderitaan, kerugian dan kematian. Dunia membutuhkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan.

Trump sendiri menyatakan siap berperang untuk jangka panjang demi kedamaian Timur Tengah dan dunia. Perang untuk damai pada hakikatnya sesuai dengan pendapat Eisenhower bahwa perang adalah bisnis besar yang menggiurkan. Setelah sukses mempermalukan kedaulatan Venezuela dan serta merta menghisap sumber minyaknya, Trump kembali menunjukkan taringnya pada Iran. Jika pada 14 Juli 2008 AS memainkan energy price war, maka sejak AS menjadi negara net eksportir minyak pada 2015, strateginya secara bertahap berubah. Dimulai dengan menggeser energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) hingga ke persoalan perebutan sumberdaya mineral rare earth. Tesa Henry Kissinger dicamkannya, yakni mengendalikan minyak sebagai sarana mengendalikan bangsa-bangsa. Ini soal mendominasi yang digenggam sejak kemenangan PD II yang tak ingin dlepas, atau berbagi.

Sadar bahwa isu EBT tak berhasil memulihkan dominasi AS, Trump keluar dari Kesepakatan Paris. AS juga keluar dari 61 lembaga multilateral yang menyita biaya APBNnya. Di domestiknya, efisiensi melalui DOGEnya Elon Musk, sebenarnya berniat mengubah kultur birokrasi sehngga tidak terkontaminasi kultur birokrasi lama, Demokrat.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |