REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di antara sunyi yang tak terdengar, ada rasa yang tumbuh tanpa disadari, bukan karena hidup kekurangan, tetapi karena mata terlalu lama menatap kelebihan orang lain. Di era ketika kehidupan hadir tanpa jeda di layar ponsel, perbandingan perlahan menjadi kebiasaan. Dari sanalah hasad bersemi, pelan, halus, dan kerap disangka sebagai kegelisahan biasa. Ia tidak datang sebagai ledakan, melainkan sebagai bisikan yang perlahan mengganggu ketenangan hati.
Sejak awal sejarah manusia, bisikan itu telah dikenal. Kisah Qabil dan Habil mengingatkan bahwa iri bisa berawal dari sesuatu yang tampak sederhana. Namun ketika hati menolak untuk bercermin dan justru memilih membandingkan, hasad menemukan jalannya, dan selebihnya adalah luka yang panjang.
Namun, kisah yang lebih halus, dan lebih dekat dengan kehidupan kita hari ini, tergambar dalam perjalanan Nabi Yusuf.
Sejak awal, tanda itu sudah diisyaratkan. Allah merekam mimpi Yusuf dalam Alquran:
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
Idz qāla Yūsufu li-abīhi yā abati innī ra'aytu aḥada ‘ashara kawkaban wasy-syamsa wal-qamara ra'aytuhum lī sājidīn.
“(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’” (QS Yusuf: 4)
Mimpi itu bukan sekadar mimpi. Ia adalah isyarat tentang masa depan, tentang kemuliaan yang akan datang, sekaligus ujian yang akan menyertainya. Nabi Ya’qub memahami hal itu. Karena itu ia memperingatkan Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya.
Bukan karena takut pada mereka. Tetapi karena memahami satu hal yang sangat manusiawi: hati yang melihat kelebihan orang lain, jika tidak siap, mudah diliputi hasad. Itulah yang kemudian terjadi.
Yusuf tumbuh dalam kasih sayang ayahnya. Ada kelembutan dalam dirinya, ada cahaya yang membuatnya berbeda. Namun perbedaan itu, di mata saudara-saudaranya, terasa sebagai ketidakadilan.
“Sungguh Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita daripada kita.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang dalam. Mereka tidak kehilangan apa pun. Mereka kuat, dewasa, dan jumlahnya lebih banyak. Tetapi di hadapan Yusuf, semua itu terasa tidak cukup.
.png)
6 days ago
21















































