Belajar Bersyukur dari Hari Asyura

2 hours ago 2

Image Hamdani

Agama | 2026-06-26 18:28:33

Ustadzah Kaswati Azkia, S.Pd, Pengasuh dan Pengajar Dayah Babul Huda Jambo Masi, Lamno, Aceh Jaya, mengajak umat Islam menjadikan Hari Asyura sebagai momentum memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan menjemput ampunan Allah SWT. (Dok. Pribadi)

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar perubahan angka dalam kalender Islam. Ia adalah panggilan untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Di awal tahun yang baru, Allah SWT menghadiahkan kepada umat Islam sebuah hari yang penuh keberkahan, yaitu Hari Asyura, 10 Muharram. Hari ini bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi momentum spiritual untuk memperbanyak syukur, memperkuat keimanan, dan meraih ampunan Allah SWT.

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram." Rasulullah SAW kemudian menegaskan kemuliaan bulan ini melalui sabdanya, "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."

Pesan tersebut mengajarkan bahwa tahun baru Hijriah semestinya tidak hanya diisi dengan perayaan seremonial, tetapi menjadi momentum memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Muharram adalah kesempatan untuk membuka lembaran baru dengan amal-amal terbaik.

Keistimewaan Hari Asyura tidak dapat dipisahkan dari kisah agung Nabi Musa AS. Ketika beliau bersama Bani Israil dikejar Fir'aun hingga terhimpit di tepi laut, secara kasat mata tidak ada lagi jalan keselamatan. Namun, justru pada saat itulah pertolongan Allah datang. Laut terbelah atas izin-Nya, Nabi Musa AS beserta pengikutnya selamat, sedangkan Fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan.

Peristiwa itu mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering kali hadir ketika manusia merasa semua jalan telah tertutup. Saat ikhtiar telah dilakukan dan harapan tampak menipis, Allah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi kekuasaan-Nya. Karena itu, Hari Asyura menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan, kemenangan iman atas kezaliman, dan kemenangan harapan atas keputusasaan.

Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura untuk mengenang keselamatan Nabi Musa AS, beliau bersabda, "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Rasulullah SAW pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya.

Keutamaan puasa Asyura sangat besar. Rasulullah SAW bersabda, "Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." Betapa luas kasih sayang Allah SWT. Dengan satu hari berpuasa, seorang hamba diberi peluang memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kecil yang telah diperbuat selama setahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menutup pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali.

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar umat Islam menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi dengan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasu'a. Beliau bersabda, "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." Oleh karena itu, para ulama menganjurkan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, bahkan sebagian menambahkan tanggal 11 Muharram sebagai bentuk penyempurnaan ibadah.

Dalam sejarah Islam, Hari Asyura juga bertepatan dengan syahidnya Sayyidina Husain bin Ali RA di Karbala. Peristiwa tersebut merupakan musibah besar yang menyedihkan bagi umat Islam. Ahlus Sunnah wal Jamaah mencintai keluarga Rasulullah SAW, termasuk Husain RA, serta senantiasa mendoakan beliau. Namun, kecintaan kepada Ahlul Bait diwujudkan dengan mengikuti ajaran Rasulullah SAW, bukan melalui ratapan berlebihan atau ritual yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Karena itu, makna Asyura tidak berhenti pada mengenang sejarah, tetapi menjadikannya pelajaran untuk memperkuat keimanan dan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Hari ini juga menjadi momentum memperbanyak amal saleh, seperti membaca Al-Qur'an, berzikir, beristighfar, bersedekah, membantu mereka yang membutuhkan, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak doa. Ibadah yang benar bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.

Ustadzah Kaswati Azkia, S.Pd, Pengasuh dan Pengajar Dayah Babul Huda Jambo Masi, Lamno, Aceh Jaya, mengajak umat Islam menjadikan Hari Asyura sebagai momentum memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan menjemput ampunan Allah SWT. (Dok. Pribadi)

Hakikat Asyura sesungguhnya adalah hijrah hati. Hijrah dari kelalaian menuju ketaatan, dari keputusasaan menuju optimisme, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari permusuhan menuju kasih sayang, serta dari dosa menuju taubat yang tulus.

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, pesan Hari Asyura terasa semakin relevan. Ketika manusia mudah cemas menghadapi masa depan, kisah Nabi Musa AS mengajarkan bahwa tidak ada persoalan yang terlalu besar bagi Allah SWT. Ketika manusia merasa dirinya dipenuhi dosa, Rasulullah SAW membawa kabar gembira bahwa rahmat dan ampunan Allah selalu lebih luas daripada kesalahan hamba-Nya.

Menurut penulis, Ustadzah Kaswati Azkia, S.Pd, Hari Asyura seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas ibadah tahunan, tetapi menjadi titik balik untuk membangun karakter seorang Muslim yang lebih bertakwa, bersyukur, sabar menghadapi ujian, serta peduli terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang perlu ditanamkan kepada para santri, keluarga, dan generasi muda agar Muharram benar-benar menjadi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar pergantian kalender Hijriah.

Karena itu, jangan biarkan Hari Asyura berlalu tanpa makna. Sambutlah dengan puasa, doa, istighfar, sedekah, dan tekad untuk memperbaiki diri. Jadikan Hari Asyura sebagai awal untuk semakin dekat kepada Allah SWT, semakin lembut kepada sesama, dan semakin yakin bahwa setiap kesulitan pasti disertai jalan keluar yang telah Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu menghidupkan Hari Asyura dengan amal saleh, meraih ampunan-Nya, serta meneladani keteguhan para nabi dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Sebab kemenangan yang sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas hawa nafsu, dosa, dan kelalaian diri.

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |