REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan sektor energi Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian global, terutama akibat ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasokan, harga, dan ketahanan energi. Bahlil menjelaskan perubahan besar kondisi energi Indonesia dibandingkan era 1990-an.
Ia menjelaskan, Indonesia yang sebelumnya menjadi negara pengekspor minyak kini harus bergantung pada impor akibat penurunan produksi dalam negeri. “Bangsa kita sekarang bedanya dengan 1996-1997 ada dua hal. Yang pertama, lifting kita saat itu bisa mencapai 1,6 juta barel per hari. Konsumsi kita hanya 500 ribu barel per hari sehingga kita ekspor sekitar 1,1 juta barel per hari,” ujar Bahlil dalam peluncuran Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 yang dipantau daring, Kamis (25/6/2026).
Namun, kondisi tersebut berubah setelah reformasi. Produksi minyak terus menurun hingga pada 2025 lifting minyak Indonesia hanya sekitar 650 ribu barel per hari. Pemerintah bahkan menargetkan lifting pada 2026 sekitar 610 ribu barel per hari.
Pada saat yang sama, kebutuhan impor minyak meningkat. Bahlil menyebut Indonesia kini harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, berbanding terbalik dengan kondisi dua dekade lalu ketika Indonesia mampu mengekspor dalam jumlah serupa.
Menurut dia, salah satu penyebab utama penurunan produksi adalah usia sumur minyak yang semakin tua. Dari sekitar 40 ribu sumur yang ada, hanya sekitar 18 ribu hingga 19 ribu sumur yang masih berproduksi dengan produktivitas yang terus menurun.
“Karena sumur kita sudah tua. Maka ada tiga pendekatan untuk meningkatkan lifting,” kata Bahlil.
Pendekatan pertama adalah penggunaan teknologi, termasuk penerapan enhanced oil recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi dari lapangan minyak yang sudah ada. Kedua, pemerintah mendorong percepatan pengembangan proyek minyak dan gas yang selama ini belum berjalan.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Blok Masela. Bahlil mengatakan proyek tersebut telah tertunda selama hampir tiga dekade akibat berbagai perdebatan teknis dan kebijakan. Pemerintah kemudian memilih pendekatan yang berorientasi pada percepatan eksekusi.
“Teori bagus kalau tidak dieksekusi sampai mati pun tidak jalan. Saya tanya, mana yang bisa cepat jalan,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan konstruksi proyek tersebut dimulai pada 2027 dan produksi dapat berjalan sekitar 2029-2030. Selain itu, pemerintah juga membuka peluang eksplorasi baru dengan melakukan tender terhadap sekitar 120 wilayah potensial. Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan cadangan baru guna memperkuat pasokan energi nasional.
Di sisi konsumsi, Bahlil menyebut pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) melalui pengembangan energi berbasis nabati. Untuk solar, pemerintah mendorong peningkatan campuran biodiesel hingga B40 dan B50. Menurut dia, kebijakan tersebut telah membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar.
Konsumsi solar nasional sekitar 39 juta kiloliter per tahun, dengan kebutuhan dipenuhi melalui kombinasi bahan bakar fosil dan biodiesel. Sementara untuk bensin, kebutuhan nasional masih sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Produksi dalam negeri saat ini sekitar 20 juta kiloliter sehingga sebagian kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.
Bahlil mengatakan pemerintah tengah mendorong penerapan campuran etanol dalam bensin, seperti kebijakan E20, untuk mengurangi impor dan menjaga devisa negara.
“Kalau B50 bisa memenuhi kebutuhan solar, kenapa bensin tidak? Tujuannya agar kita bisa mengurangi impor dan devisa tidak keluar,” katanya.
Menurut Bahlil, impor energi menjadi salah satu beban terbesar terhadap cadangan devisa Indonesia. Ia memperkirakan kebutuhan devisa untuk membeli BBM mencapai hampir 30 miliar dolar AS per tahun.
Di tengah ketegangan geopolitik global, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak. Bahlil mengatakan Indonesia tidak hanya bergantung pada kawasan Timur Tengah, tetapi mulai mencari sumber pasokan dari negara lain, termasuk Afrika.
“Kita sudah punya feeling sebelum perang terjadi. Kita segera melakukan diversifikasi,” ujarnya.
Ia mengatakan strategi tersebut membuat Indonesia relatif mampu menjaga pasokan energi ketika terjadi konflik geopolitik. Indonesia, kata dia, akan tetap menggunakan prinsip politik luar negeri bebas aktif dalam mencari sumber energi.
sumber : Antara
.png)
1 hour ago
2

















































