Bahaya Kesehatan di Balik Kue Putu yang Dimasak Pakai Paralon

5 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kue putu menjadi salah satu kudapan tradisional yang masih populer dan banyak ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Kudapan berupa kue dengan isian gula jawa, dibalut parutan kelapa, dan tepung beras butiran kasar ini selalu berhasil membangkitkan selera sekaligus nostalgia.

Namun demikian, belakangan ini banyak ditemui pedagang kue putu yang menggunakan pipa polyvinyl chloride (PVC) atau paralon dalam proses pembuatannya. Hal ini pun memicu kekhawatiran akan dampaknya bagi kesehatan.

Menanggapi fenomena ini, Guru Besar Ilmu Pangan dari IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, mengatakan pipa PVC sebaiknya tidak digunakan untuk mencetak dan mengukus kue putu. Fenomena pedagang yang beralih dari batang bambu ke pipa paralon ini dinilai sangat berbahaya karena dapat memicu perpindahan komponen plastik beracun ke dalam makanan.

"Pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat Celsius, sehingga tidak didesain untuk digunakan pada suhu tinggi," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (22/6/2026).

Prof Eko menjelaskan, proses pengukusan kue putu menggunakan uap air bersuhu 100 derajat Celsius agar terjadi gelatinisasi pati beras pada suhu sekitar 80 derajat Celsius. Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi atau perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu.

"Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat Celsius. Jadi suhu panas dari uap airnya bisa membuat plastik dari pipa berpindah ke dalam kue putu," kata dia.

Kondisi suhu tinggi tersebut memicu migrasi zat tambahan seperti stabiliser mengandung Pb (timbal). Timbal adalah logam berat beracun yang dapat meracuni lingkungan dan mempunyai dampak pada seluruh sistem di dalam tubuh.

Beberapa penelitian mencatat, mengonsumsi makanan yang terpapar logam berat ini dapat merusak sistem saraf, menurunkan fungsi kognitif, mengganggu kerja ginjal, serta memicu masalah kardiovaskular dalam jangka panjang. Bahkan dalam jangka panjang, paparan timbal pada anak-anak dapat menurunkan IQ, mengganggu perhatian, serta menyebabkan perubahan perilaku.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |