REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Kirana Destiani akhirnya kembali pulang ke pelukan kakek dan neneknya di Kampung Babut Girang, RT 03/20, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat. Remaja berusia 13 tahun ini bisa melepas rindu usai lama tak berjumpa karena menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 08 Cimahi.
Kirana dan siswa lainnya diberikan waktu untuk rehat sejenak hingga 5 Juli 2026.
Aktivitasnya di Asrama Sekolah Rakyat yang mengubah kehidupanya ia tinggalkan sejenak dan kini sedang menikmati waktu bersama kakek dan neneknya, Aan (74) dan Sariah (70) yang sudah membesarkannya sejak kecil.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Kirana meyakini SR yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul itu bisa menjadi batu loncatan baginya yang bercita-cita menjadi polisi wanita alias polwan.
SR menjadi harapan baru untuk masa depan wong cilik yang lebih baik seperti dirinya. "Sekarang lagi libur dulu sekolahnya, jadi pulang ke nenek sama kakek. Nanti kalau udah waktunya masuk, kembali lagi ke asrama, sekolah lagi," tutur Kirana, memulai perbincangan dengan Republika di rumahnya, Kamis (25/6/2026).
Kehilangan Pelukan Hangat Orang Tua
Selama menikmati libur sekolah, Kirana tentu saja tidak berleha-leha. Ia tetap menyisihkan waktunya untuk belajar dan membantu neneknya menjaga warung sederhana di rumahnya seperti yang kerap dilakukan sejak kecil.
Kirana memang bersama kakek dan neneknya usai kedua orang tuanya berpisah dan enggan mengurusnya.
Kehilangan pelukan hangat orang tua tentu saja membuat Kirana sedih. Namun ia tak ingin larut dalam suasana itu karena masih ada kakek dan nenek tercintanya yang dengan tulus membesarkannya meski di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas.
"Kedua orang tua enggak bisa merawat saya," ucap Kirana dengan nada lirih.
Usai lulus dari jenjang SD pada 2025, Kirana mencoba mengintip peluang melanjukan pendidikannya ke jenjang SMP namun tanpa mengeluarkan biaya karena ia tak ingin terus membebani kakek dan neneknya. Harapan muncul usai pemerintah memulai program SR.
Kirana mendaftar dan akhirnya lolos seleksi karena pada dasarnya program itu memang menyasar keluarga miskin dan miskin ekstrem yang berada dalam golongan desil 1 (10 persen keluarga termiskin) atau desil 2 (11-20 persen termiskin).
Tujuan utamanya, memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui penyediaan akses pendidikan gratis dan berkualitas.
Awal kehidupan barunya pun dimulai ketika masuk Asrama SRMP 08 Cimahi di Sentra Abiyoso pada 14 Juli 2026. Ia harus berpisah sementara dengan kakek dan neneknya dan memulai menjalani keseharian bersama teman-teman yang baru dikenalnya.
"Daftar ke sini itu awalnya ada yang kasih tau katanya bisa sekolah gratis di SR, kan pengen banget sekolah, belajar. Alhamdulillah ternyata jalannya di Sekolah Rakyat buat nerusinnya," ucap Kirana.
Awalnya Resah Akhirnya Betah
Sejak masuk asrama SR, otomatis Kirana dan siswa lainnya harus meninggalkan kehidupan dan kebiasaan lamanya lalu beradaptasi dengan kebiasaan baru.
Sebab, sekolah gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini mengusung konsep pendidikan holistic. Jadi, tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik juga pembentukan karakter. Siswa dilatih hidup mandiri, percaya diri dan berani bermimpi.
Dengan sistem asrama atau boarding school, mereka harus terbiasa dengan rutintitas harian yang terstruktur dan disiplin waktu.
Aktivitas siswa dimulai pukul 03.30 WIB bagi yang ingin shalat Tahajud. Kemudian bagi yang ingin puasa Senin dan Kamis pun akan dibangunkan dan disiapkan makam sahurnya. Sedangkan aktivitas bersama diawali dengan apel, lalu shalat Subuh berjamaah di masjid.
Pukul 06.00 WIB waktunya sarapan pagi bagi para siswa termasuk Kirana yang dilanjutkan dengan bersih-bersih lingkungan. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) baru dimulai pukul 07.00-14.30 WIB mengikuti kurikulum yang berlaku secara nasional.
Setelahnya, berlanjut dengan kegiatan keasramaan dan ekstrakulikuler sesuai keinginan siswa, belajar mandiri hingga bersih-bersih lingkungan lagi. Malam hari, diisi dengan mengaji, kelas literasi, numerasi, peminatan hingga kelas tambahan bagi anak yang membutuhkannya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan tidur maksimal pukul 21.00 WIB. Kebiasaan baru itu awalnya membuat Kirana tidak betah dan sempat terbesit ingin kembali ke rumah. Ditambah lagi Kirana sering rindu kakek dan neneknya.
"Pas awal masuk kadang ngerasa enggak betah karena kan kegiatannya beda jauh sama pas di rumah. Apalagi enggak boleh megang HP, makin kangen sama rumah, sama kakek nenek," tutur Kirana.
Namun, ia berusaha meluluhkan egonya secara perlahan dan mempercepat proses adaptasi dengan kehidupan barunya. Sebab, Kirana meyakini SR ini bisa menjadi jembatan untuk mengejar cita-citanya.
Terlebih lagi siswa SR diperlakukan 'istimewa' karena semua kebutuhannya sudah dipenuhi negara. Itu diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 120 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidup siswa dari kepala hingga ujung kaki ditanggung penuh oleh negara. Di antaranya fasilitas asrama dengan tempat tidur yang nyaman, alat tulis, sepatu, seragam dan lainnya.
"Hikmahnya sekarang setelah satu tahun di sini, tentunya lebih rajin, disiplin, percaya diri. Alhamdulillah sekarang udah naik ke kelas 8. Saya mau jadi Polwan biar kakek sama nenek bangga," kata Kirana.
Asa Sang Nenek Tumbuh
Perubahan positif Kirana usai satu tahun menjadi peserta didik di SRMP 08 membuat sang nenek, Sariah (70) bangga dan terharu. Ia tahu betul cucu kesayangannya itu begitu ingin mengenyam pendidikan setinggi mungkin namun harus terkendala biaya.
Di tengah keresahan itu, SR hadir memberikan secercah harapan dan membuka jalan bagi cucunya melanjutkan sekolah. "Itu keinginan dianya (Kirana) ke situ (SR), dianya semangat. Nenek enggak punya uang, tapi alhamdulillah sekarang bisa sekolah gratis," tutur Sariah.
Bagi dia, Kirana adalah amanah yang harus benar-benar dijaga karena sejak bayi ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya.
Bersama suaminya, Sariah membesarkan cucunya dengan kasih sayang meski di tengah keterbatasan ekonomi. Harapannya pun sederhana, ia ingin Kirana tumbuh menjadi perempuan yang taat beribadah, memiliki akhlak mulia dan menjaga kehormatan diri.
"Orang tuanya enggak mau ngurus, jadi nenek yang ngurus dari bayi. Harapannya mah mudah-mudahan solehah, bisa ngaji, sekolah yang pinter," kata Sariah.
93 Anak Wong Cilik dari Cimahi
Kirana adalah bagian dari 93 peserta didik di SRMP 08 Cimahi yang terbagi ke dalam empat rombongan belajar (rombel). Mereka hasil penjaringan Kementerian Sosial yang bekerja sama dengan Dinas Sosial di daerah serta pendamping.
Prioritas utamanya anak-anak dari desil 1 dan desil 2. "Namun, jika ada prioritas lain di luar itu, tetap diperkenankan selama anaknya bersedia dan orang tuanya mengizinkan," kata Humas SRMP 08 Cimahi, Retno Ika.
Secara psikologis, ungkap dia, latar belakang anak-anak di SRMP 08 Cimahi sangat beragam. Ada yang mengalami salah pengasuhan, memiliki trauma psikologis tertentu, hingga anak yang kurang fokus belajar karena memikirkan kondisi rumah.
"Dari segi ekonomi, ada anak yang dulunya pernah memulung, hingga anak yang orang tuanya sama sekali kesulitan berkunjung karena tidak memiliki uang," ucapnya.
Ragam latar belakang itu tentu saja menjadi tantangan bagi semua tenaga kependidikan di SRMP 08 Cimahi. Di awal masuk asrama, ungkap Retno, ada anak yang mengalami tantrum, ada yang histeris seperti kesurupan.
Hingga, ada anak yang enggan tidur hingga kebiasaan-kebiasaan rumah yang terbawa ke asrama. Untuk mengatasi hal ini, sekolah bekerja sama dengan Klinik Sentra Abiyoso untuk penanganan secara klinis dan medis.
Selain itu, disediakan juga fasilitas psikolog untuk asesmen psikologi anak serta penanganan psikososial mereka. Pihaknya ingin semua peserta didik nyaman belajar di Sekolah Rakyat yang membuka asa untuk masa depan yang lebih baik.
"Alhamdullilah, saat ini anak-anak sudah cukup betah, mau tidur di asrama, makan dengan lahap bersama-sama, dan tidak ada lagi anak yang menyendiri," ujar Retno.
.png)
1 hour ago
2

















































