Ada Selisih Rp9.000, Seberapa Kuat Menahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak Dunia?

9 hours ago 3

Ada Selisih Rp9.000, Seberapa Kuat Menahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak Dunia?

Ada Selisih Rp9.000, Seberapa Kuat Menahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak Dunia? Ini Hitung-hitungannya (Foto: Dokumentasi)

JAKARTA - Seberapa kuat menahan harga BBM di tengah lonjakan minyak dunia? Tentu ini menjadi pertanyaan banyak pihak. Pemerintah telah memutuskan harga BBM subsidi dan nonsubsidi tidak naik sejak 1 April 2026 meski harga minyak dunia meroket di atas USD100 per barel.

Pemerintah dinilai perlu hati-hati dalam mengambil kebijakan terkait dengan harga BBM bersubsidi maupun nonsubsidi. Pasalnya, kebijakan mempertahankan harga di tengah lonjakan harga minyak mentah global untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, namun perlu diwaspadai dampaknya bagi ketahanan energi nasional.  

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, dengan asumsi harga Indonesia Crude Price (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN) 2026 sebesar USD70 per barel ke harga rata-rata saat ini, pergerakan hariannya mendekati harga minyak Brent.  Jika merujuk pada harga minyak jenis Brent dikurangi sekian persen, kira-kira sudah ada selisih dengan asumsi ceteris paribus artinya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS diasumsikan sama dengan asumsi di APBN 2026. Hasilnya, paling tidak masing-masing produk BBM ada selisih harga jual Rp5.000-Rp9.000 per liter dibanding nilai keekonomiannya. 

"Ini bukan masalah subsidinya, tetapi ini masalah keberlanjutan pengadaannya yang perlu diantisipasi. Kalau subsidi nanti bisa diselesaikan dengan mekanisme kompensasi, tetapi yang jauh lebih mengkhawatirkan di dalam konteks ketahanan itu adalah ada nggak uangnya Pertamina untuk mengadakan di hari-hari kedepan atau bulan berikutnya,” ungkap Komaidi saat diskusi bertajuk “Menjaga Ketahanan Energi Di Tengah Gejolak Harga Minyak Global” yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S) di Jakarta, Kamis (9/4/2026). 

Perlu Tambahan Rp2 Triliun per Hari

Menurut Komaidi, berdasarkan data terakhir volume penjualan BBM nasional yang mencapai kisaran 80 juta kiloliter per tahun, dengan market share sekitar 88-90%, penjualan BBM Pertamina satu tahun sekitar 72 juta-75 juta kiloliter atau kira-kira 200 ribu kiloliter per hari.

Jika volume penjualan BBM Pertamina dikalikan Rp5.000-Rp9.000, maka perlu tambahan dana sekitar Rp1,5 triliun-Rp2 triliun per hari atau satu bulan mencapai Rp60 triliun. 

“Berapa bulan mereka (Pertamina) tahan dengan cashflow yang ada. Belum lagi mereka juga mungkin ada beberapa bond yang akan jatuh tempo juga, jadi harus bayar cicilan pokoknya maupun bunga utangnya,” kata dia.

Komaidi mengatakan jika Pertamina tidak bisa mengadakan pasokan BBM, sementara market share-nya hampir 90%, maka enggak akan ada BBM di dalam negeri. Ini yang membuat pemerintah perlu hati-hati di dalam mencermati kondisi yang ada atau kemudian memberikan kebijakan. 

Di satu sisi, lanjut dia, keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM dalam konteks ekonomi cukup dipahami. Namun yang jauh lebih penting, kalau barangnya enggak ada, maka akan kolaps semuanya. 

“Hitung-hitungan APBN maupun ekonomi menjadi enggak berarti, kalau barang itu nggak ada, bisa dibayangkan, jika BBM di SPBU enggak ada.  Ini akan menimbulkan kemacetan nasional di dalam konteks ekonomi maupun sosial. Ini yang saya kira perlu diantisipasi oleh kita semua,” tegas Komaidi. 
 
Menurut Doktor Kebijakan Energi dari Universitas Trisakti ini, upaya pemerintah untuk mendinginkan masyarakat memang penting, namun tetap perlu rasional. 

“Kebijakan boleh populis, tetapi harus rasional.  Kalau populis irasional, kombinasi itu akan menghancurkan semua tatanan, saya kira,” tegas Komaidi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |