REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri bakery dan pastry di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap roti, kue, dan dessert modern. Tak hanya mengutamakan cita rasa, konsumen kini juga mempertimbangkan tampilan, tekstur, hingga pengalaman saat menikmati sebuah produk. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk terus berinovasi agar mampu bersaing di pasar yang semakin dinamis.
Perubahan tren konsumsi itu juga membuat peningkatan keterampilan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku usaha bakery, mulai dari UMKM hingga toko roti berskala besar. Selain menguasai teknik pembuatan produk, pelaku usaha dituntut memahami karakteristik bahan baku agar dapat menghasilkan produk yang konsisten dan bernilai jual.
Direktur Utama PT Wahana Interfood Nusantara Tbk, Sugianto Soenario, mengatakan inovasi menjadi kunci agar pelaku bakery mampu menjawab perubahan selera konsumen. "Perubahan tren konsumsi mendorong pelaku bakery untuk terus berinovasi agar dapat menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar. Kami ingin berbagi teknik aplikasi serta pemahaman mengenai karakteristik bahan baku sehingga peserta dapat menciptakan produk yang berkualitas dan memberikan nilai tambah bagi bisnis mereka," kata Sugianto dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2026).
Menurut dia, edukasi praktis menjadi salah satu cara untuk membantu pelaku usaha mengembangkan produk sekaligus meningkatkan daya saing. Hal itu diwujudkan melalui pelatihan Baking with Schoko yang menghadirkan demonstrasi teknik pembuatan bakery dan dessert modern.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari pembuatan sejumlah menu yang dinilai memiliki potensi bisnis, seperti London Layers Chocolate Cake, Iceberg Cheesecake, Nagasari Maizena Chocolate Lumer, dan Brazilian Cheese Bread. Selain praktik membuat produk, peserta juga berdiskusi mengenai formulasi resep, teknik pengolahan, aplikasi bahan baku, hingga cara menjaga konsistensi kualitas produksi dalam skala usaha.
Fenomena meningkatnya kebutuhan inovasi di sektor bakery sejalan dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri makanan dan minuman masih menjadi kontributor terbesar bagi industri pengolahan nonmigas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, tren konsumsi makanan penutup dan produk artisan juga terus berkembang, dipengaruhi media sosial serta meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman kuliner yang unik.
Pengamat industri pangan menilai, keberhasilan sebuah produk bakery saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa. Faktor visual yang menarik, kemudahan dibagikan di media sosial, serta kemampuan menghadirkan pengalaman baru menjadi pertimbangan penting bagi konsumen, terutama generasi muda.
Karena itu, pelaku usaha dituntut lebih adaptif dalam membaca tren, tanpa mengabaikan kualitas bahan baku dan efisiensi produksi. Inovasi resep yang mudah diaplikasikan serta memiliki nilai ekonomi dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas pasar, terutama bagi pelaku UMKM yang mendominasi sektor bakery di Indonesia.
Melalui pelatihan semacam ini, pelaku industri diharapkan tidak hanya mengikuti perkembangan tren, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan memiliki daya saing di tengah ketatnya persaingan industri makanan.
.png)
3 hours ago
2
















































