Terungkap Pola Israel Halangi Perdamaian AS-Iran, Sama Persis Perang Irak Iran dan Perjanjian Nuklir

1 week ago 24

Para pengunjuk rasa memegang tanda selama protes Hentikan Perang terhadap Iran di luar Balai Kota di Los Angeles, California, AS, 02 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON-Ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terdapat alasan kuat untuk memperkirakan bahwa ia akan memanfaatkan pertemuan tersebut guna menghambat setiap langkah menuju penghentian ketegangan dan konflik di kawasan Teluk.

Pandangan ini, menurut mantan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, didasarkan pada catatan sejarah yang membentang lebih dari lima dekade.

Berbagai dokumen intelijen yang telah dideklasifikasi, memo para pejabat senior Amerika Serikat, laporan investigatif, dan penelitian akademik, menurutnya, menunjukkan pola yang berulang.

Pemerintah-pemerintah Israel yang silih berganti, sering kali dengan dukungan unsur-unsur dalam lembaga keamanan negara itu, berulang kali berupaya menggagalkan berbagai usaha untuk mengakhiri konflik regional maupun mengelola ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun metode yang digunakan berbeda-beda—mulai dari operasi intelijen, kampanye diplomasi publik, lobi politik hingga tekanan terhadap pengambil kebijakan—tujuan strategisnya dinilai tetap sama yaitu mempertahankan konfrontasi antara Washington dan Teheran, serta menentang berbagai inisiatif diplomatik yang berpotensi mengurangi pengaruh Israel dalam membentuk kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Memperpanjang Perang Iran-Irak

Menurut Zarif, logika tersebut telah terlihat sejak Perang Iran-Irak yang berlangsung antara 1980 hingga 1988.

Sejumlah peneliti, di antaranya Trita Parsi dan David Menashri, berpendapat bahwa strategi Israel pada masa itu cenderung menginginkan agar tidak ada pihak yang memperoleh kemenangan mutlak ataupun mengakhiri perang secara cepat.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |