Standar Hidup Siapa yang Kita Pakai? Menyelami Perspektif Medis dan Dalil Naqli

1 week ago 28

Image Aulia Nur Maulida

Agama | 2026-07-28 11:59:35

“Enak ya jadi dia, sukses terus hidupnya”

“Dia kok bahagia terus, aku kapan yah..”

Fenomena demikian telah banyak terjadi di kalangan pengguna media sosial saat ini, berdasarkan rilisan data riset laporan digital 2026 oleh We Are Social dan Meltwater, terdapat sekitar 180 juta pengguna aktif media sosial yang setara dengan 62,9% dari total populasi penduduk di Indonesia yang telah terhubung kedalam berbagai platform. Maraknya penggunaan media sosial tersebut membawa berbagai pengaruh salah satunya terhadap pola pikir dalam menjalani keseharian, yang kerap tidak berbeda jauh dari konten-konten yang sering muncul di algoritma.

Terkadang ketika kita melihat postingan pencapaian orang lain seringkali berpotensi menimbulkan rasa menginginkan dan tidak sedikit yang membandingkannya dengan keadaan yang telah dilalui, bahkan ada beberapa kasus dimana individu dapat memiliki perilaku konsumtif hingga berutang demi terlihat setara. Selain soal harta, perbandingan fisik juga memungkinkan untuk memakan korban kesehatan mental yang nyata. Data dari Kementerian Kesehatan RI melalui skrining kesehatan jiwa nasional mencatat bahwa masalah kesehatan mental masih menjadi perhatian besar di Indonesia. Di sisi lain, berbagai penelitian membahas paparan media digital dan budaya membandingkan diri sebagai faktor yang dapat memengaruhi hal tersebut.

Dalam bidang neuroscience, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa rendah diri akibat melihat pencapaian dari orang lain secara terus-menerus dapat memicu respons stres pada tubuh, yang apabila berlangsung kronis, dapat berdampak terhadap kualitas pola tidur bahkan mengganggu metabolisme dan sistem imunitas.

Seorang pakar psikiatri dari Stanford University, Dr. Anna Lembke dalam bukunya berjudul Dopamine Nation, mengaitkan media sosial dengan sistem penghargaan di otak yang melibatkan dopamin. Ketika seseorang terus-menerus mencari validasi dan membandingkan diri secara digital, kondisi tersebut dapat membuat seseorang sulit merasa puas dengan hidupnya. Hal inilah terkadang menjadikan individu memiliki pemahaman yang keliru tentang kebahagiaan, berisiko kurang mensyukuri nikmat yang Allah berikan dan terlalu sensitif terhadap penilaian orang lain terhadap dirinya.

Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut? Sebagai seorang muslim tentunya kita dapat merenungkan perintah Allah dalam kalamnya yang berbunyi:

"Dan janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kepadamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS.Thaha:131)

Ayat tersebut menyatakan bahwa kita diharapkan mampu menjaga pandangan terhadap sesuatu yang telah diberikan Allah kepada orang lain, dan percaya bahwa rezeki dan ujian setiap manusia sudah ditakar dengan sangat baik dan adil. Tugas kita adalah berhenti menjadikan media sosial sebagai tolak ukur kebahagiaan, dan selalu mengedepankan sifat qana’ah (merasa cukup) serta mensyukuri apa yang ada di tangan saat ini.

Namun, alih-alih sibuk membandingkan pencapaian duniawi, Rasulullah SAW justru bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim supaya kita melihat ke bawah untuk urusan duniawi, dan melihat ke atas untuk urusan akhirat/kebaikan. Melalui hadis itu kita diajak untuk mengalihkan energi menginginkan tersebut kepada kompetisi yang lebih sehat, yaitu berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

Yang perlu disadari, postingan digital hanyalah menampilkan potongan terbaik dari kehidupan individu. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak menyaksikan proses dan perjuangan yang telah mereka lalui.

Maka dari itu, Islam mengajarkan makna mendalam bahwa standar kebahagiaan seorang mukmin tidak diletakkan pada layar digital, melainkan bagaimana rasa syukur kita dalam hati terhadap nikmat terbaik yang telah Allah berikan dan fokus pada proses ikhtiar masing-masing tanpa harus divalidasi oleh pencapaian orang lain.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |