Opini
, Jurnalis-Sabtu, 14 Maret 2026 |17:42 WIB

Sesmendukbangga/BKKBN Budi Setiyono Soal Skenario Ideal Melompat dari Jebakan Kelas Menengah Bonus Demografi. (foto: Okezone.com/BKKBN)
JAKARTA - Populasi Indonesia dengan 286 juta jiwa saat ini sesungguhnya sedang bernapas dengan ritme produktivitas tingkat tinggi. Di dalam struktur populasi tersebut, 70 persennya berada pada usia produktif, diapit oleh 19 persen anak-anak dan 11 persen lansia. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah sweet spot demografi dengan rasio ketergantungan (dependency ratio) di level sangat ideal, yakni sekitar 42–45 persen. Artinya, setiap 100 orang produktif hanya menanggung rata-rata beban 43 orang nonproduktif.
Secara teoritis, kondisi ini membebaskan negara dan keluarga dari beban berat biaya perawatan lansia dan pendidikan dasar, sekaligus membuka ruang raksasa bagi tingkat tabungan nasional (national saving rate). Namun, bonus demografi ini baru akan meledak menjadi keajaiban ekonomi jika dibarengi dengan sebuah “skenario ideal” kualitas manusia dan ekosistem investasi yang kuat.
Game changer
Mari kita proyeksikan bila kita membuat skenario kebijakan ideal: bagaimana jika seluruh angkatan kerja produktif tersebut diberikan pendidikan wajib 13 tahun—setara lulusan pendidikan menengah—dan 100 juta di antaranya didorong untuk memiliki sertifikat kompetensi profesi. Lalu kita sediakan lapangan pekerjaan yang mencukupi sehingga 90 juta dari mereka dapat bekerja di sektor formal, dan 80 juta dari mereka menyumbang pajak penghasilan (PPh 21).
Bagi perekonomian, ini adalah game changer atau pengubah permainan yang sejati. Selama ini, penyakit kronis investasi di Indonesia adalah skills mismatch (ketidaksesuaian keahlian) yang memaksa industri puas dengan tenaga kerja murah berkeahlian rendah. Dengan 100 juta pekerja tersertifikasi, nilai Produktivitas Faktor Total (Total Factor Productivity/TFP) kita akan melonjak tajam.
Pekerja kita tak lagi hanya mahir menjahit pakaian atau merakit komponen dasar, tetapi siap diserap oleh sektor manufaktur maju, teknologi dalam (deep-tech), dan jasa presisi tinggi. Dampak domino dari kualitas manusia ini akan mengubah lanskap ketenagakerjaan kita secara drastis.
Bayangkan jika 90 juta dari mereka terserap menjadi pekerja formal. Saat ini, lebih dari separuh pekerja kita masih terjebak di sektor informal yang rentan guncangan. Jika 90 juta jiwa ini mendapatkan kepastian pendapatan dan perlindungan sosial, kita akan menyaksikan lahirnya kelas menengah dengan daya beli yang luar biasa kokoh. Konsumsi rumah tangga tidak lagi berpusat pada pemenuhan kalori dasar, melainkan berekspansi ke sektor pendidikan lanjutan, properti, gaya hidup, dan investasi finansial.
Lebih jauh lagi, formalisasi ekonomi ini akan memicu ledakan ruang fiskal (fiscal space). Seandainya 80 juta pekerja ini taat membayar Pajak Penghasilan (PPh 21) secara wajar, rasio pajak (tax ratio) Indonesia yang selama ini terengah-engah di kisaran 10–11 persen akan melesat. Sebagai simulasi kasar, jika rata-rata satu orang membayar PPh 21 sebesar Rp5 juta per tahun, negara akan meraup tambahan penerimaan langsung sebesar Rp400 triliun per tahun—di luar PPN dan pajak korporasi.
Dengan kapasitas fiskal raksasa ini, defisit APBN dapat dengan mudah dikendalikan di bawah 2 persen. Pemerintah akan memiliki fleksibilitas finansial yang luar biasa untuk membiayai infrastruktur masif, memberikan insentif riset dan pengembangan (R&D), serta memperkuat jaring pengaman sosial tanpa harus terus menggadaikan masa depan melalui utang luar negeri yang ugal-ugalan.
Investasi rasional
Di sinilah perlunya katalisator utama: diperlukan injeksi investasi masif sebesar Rp2.500 triliun. Angka yang setara dengan sekitar 156 miliar dolar AS ini bukan sekadar peningkatan nominal, melainkan modal yang melampaui ambang batas kritis (critical mass) untuk sebuah lompatan industrialisasi.
Bila investasi ini dapat dieksekusi oleh 100 juta SDM bersertifikat, efisiensi modal atau Incremental Capital-Output Ratio (ICOR) kita yang saat ini masih boros di kisaran angka 6 dapat ditekan drastis hingga ke level 3,5–4,0. Setiap rupiah yang ditanamkan akan jauh lebih cepat menghasilkan output ekonomi riil.
Investasi Rp2.500 triliun ini tidak akan mandek pada hilirisasi tahap pertama seperti smelter nikel mentah, melainkan melesat ke manufaktur baterai kendaraan listrik utuh, fabrikasi semikonduktor, hingga transisi energi hijau berskala gigawatt. Aliran modal dan teknologi ini, jika bertemu dengan pekerja cerdas, akan memaksa terjadinya transfer teknologi dan menumbuhkan pusat-pusat R&D domestik secara organik.
Jika skenario ideal ini tereksekusi secara simultan, struktur makroekonomi kita akan berlari dengan kecepatan eksponensial. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meroket dan stabil di angka 7,5 persen hingga 9,2 persen per tahun. Konsumsi rumah tangga akan menyumbang 3,5–4,0 persen pertumbuhan, investasi menyumbang 2,2–2,8 persen berkat multiplier effect yang tajam, dan ekspor produk bernilai tambah tinggi akan menekan impor barang modal.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
.png)
3 hours ago
1














































