Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro menyampaikan soal permohonan distribusi atau dropping air bersih di wilayahnya pada musim kemarau 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman belum menerima permohonan distribusi atau dropping air bersih dari masyarakat hingga memasuki musim kemarau 2026. Meski demikian, BPBD tetap menyiapkan langkah antisipasi menyusul adanya sejumlah wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kekeringan.
"Sampai dengan detik ini, belum ada yang melaporkan ke kami permohonan untuk distribusi air bersih. Artinya, sampai dengan hari ini masih aman untuk kebutuhan air bersih. Tidak tahu kalau besok, ya," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro saat dihubungi Republika, Selasa (21/7/2026).
Bambang mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kebutuhan air bersih, BPBD menyiapkan anggaran Rp25 juta. Anggaran tersebut setara dengan sekitar 50 tangki air bersih, dengan biaya satu tangki diperkirakan mencapai Rp500 ribu.
Setiap tangki yang disiapkan memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter. Bambang berharap anggaran tersebut tidak perlu digunakan, apalagi melihat pada 2025, tidak terjadi kekeringan yang berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat.
"Mudah-mudahan, harapannya tidak ada kekeringan. Meskipun ada ancaman potensi, tetap siap, tapi semoga tidak ada," katanya.
BPBD hanya sempat mendistribusikan sekitar empat tangki air ke wilayah Kapanewon Pakem akibat kerusakan pipa air bersih yang tertimpa longsoran pada tahun lalu. "Karena pipa air bersihnya waktu itu malah musim hujan. Itu tertimpa longsoran sehingga pecah. Harus ada perawatan, perbaikan sehingga air bersih di wilayah Kaliurang itu terhambat. Sehingga kita drop-in empat tangki waktu itu, kurang lebih empat tangki," ungkapnya.
.png)
6 hours ago
4

















































