Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melanjutkan tren pelemahan hingga menembus level Rp17.706 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global dan tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri.
“Faktor global juga sangat memengaruhi,” kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, permintaan dolar meningkat selama musim ibadah haji. Selain itu, banyak perusahaan juga tengah melakukan pembayaran dividen setelah musim laporan keuangan kuartalan.
“Selama bulan ibadah haji ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Setelah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini,” ujarnya.
Airlangga menambahkan, kenaikan harga minyak dunia turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. “Jadi memang permintaannya sedang tinggi. Ditambah harga minyak masih naik, sehingga faktor eksternalnya sangat kuat,” ucapnya.
Meski rupiah melemah, Airlangga menilai kondisi tersebut bisa memberi keuntungan bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Sebab, eksportir berpotensi memperoleh nilai tukar rupiah yang lebih besar.
“Kalau yang berorientasi ekspor, pengusaha sebetulnya bisa mendapatkan daya saing lebih tinggi dan juga memperoleh rupiah lebih banyak,” katanya.
Pemerintah, lanjut Airlangga, sedang menyiapkan kebijakan untuk memperkuat cadangan devisa dan mengoptimalkan komoditas ekspor nasional. Namun, ia belum merinci langkah tersebut.
“Kebijakan itu nanti mendorong penguatan devisa kita dan optimalisasi komoditas-komoditas yang bisa didorong menjadi ekspor,” ujarnya.
Airlangga berharap kondisi nilai tukar bisa membaik pada semester II tahun ini. “Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” harap dia.
.png)
2 weeks ago
45

















































