Rumor Pembentukan Badan Ekspor Picu IHSG Anjlok, Airlangga Buka Suara

2 weeks ago 41

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumor pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis membuat pasar saham tertekan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Di tengah isu tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto belum mau buka suara terkait rencana tersebut. Ia meminta publik menunggu pembahasan resmi di DPR.

“Kita tunggu besok. Besok bicara mengenai kondisi ekonomi di DPR RI," kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (19/5/2026).

Isu pembentukan badan ekspor mencuat setelah beredar kabar pemerintah akan mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis melalui lembaga khusus bentukan negara. Komoditas yang disebut-sebut akan masuk dalam pengaturan antara lain batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam.

Sentimen tersebut memicu tekanan di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68. Saham sektor bahan baku, energi, dan transportasi menjadi yang paling tertekan. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, pasar khawatir kebijakan itu berpotensi memengaruhi harga jual komoditas dan margin laba perusahaan.

Di sisi lain, Airlangga mengatakan pemerintah memang sedang menyiapkan langkah untuk memperkuat devisa negara dan mendorong ekspor nasional.

“Kebijakan itu nanti mendorong penguatan devisa kita dan optimalisasi komoditas-komoditas yang bisa didorong menjadi ekspor,” ungkap Airlangga.

Menurut Airlangga, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi faktor global dan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri. Ia menyebut, permintaan dolar AS meningkat selama musim ibadah haji dan periode pembayaran dividen perusahaan.

“Selama bulan ibadah haji ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Setelah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini,” ucapnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

“Jadi memang permintaannya sedang tinggi. Ditambah harga minyak masih naik, sehingga faktor eksternalnya sangat kuat,” kata Airlangga.

Meski demikian, ia berharap kondisi ekonomi dan nilai tukar rupiah bisa membaik pada semester II tahun ini.

“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” ujar dia.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |