Produksi Beras di Jawa Rendah, Pemerintah Pendudukan Jepang Lakukan Ini

1 hour ago 1

Lincak 2025-11-29 16:28:31

Hamparan sawah di Pamanukan, Subang, dengan tanaman padi yang lurus, berjarak 20 cm, seperti yang dikenakan Jepang pada 1942. Produksi beras di Jawa sangat rendah saat itu. Jepang datang, kenalkan inovasi teknik penanaman padi, lalu mewajibkan petani menyerahkan padi ke pemerintah pendudukan Jepang. Sumber: priyantono oemar

Padi yang ditanam di Jawa, kualitasnya bagus. Itulah sebabnya pemerintah pendudukan Jepang menetapkan Jawa menjadi pemasok kebutuhan beras ke wilayah-wilayah di luar Jawa.

Namun, produksi padi di Jawa masih sangat rendah, kalah jauh dibandingkan dengan produksi padi di Jepang. Pada 1938-1939, sawah di Jawa hanya menghasilkan 15,3 kuintal beras tumbuk per hektarenya, sedangkan sawah di Jepang menghasilkan 38,2 kuintal beras tumbuk per hektare.

Pemerintah pendudukan Jepang pun melakukan propaganda melipatgandakan hasil dan melakikan berbagai program. Meski kemudian menyengsarakan petani, tetapi Jepang menunjukkan tindakan nyata secara sistematis dan sungguh-sungguh dalam meningkatkan produksi padi.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

“Pemerintah sangat aktif dalam merancang berbagai program bagi tujuan ini,” tulis Aiko Kurasawa di buku Kuasa Jepang di Jawa. Pelatihan-pelatihan pun diberikan kepada para petani.

Mengapa produksi padi di Jawa rendah? Jepang menemukan salah satu penyebabnya, yaitu padi ditanam secara acak.

Maka, salah satu program yang dilakukan adalah melakukan inovasi teknik penanaman. Percobaan pun dilakukan, dan ditemukan jarak ideal penanaman adalah 20 cm dalam garis lurus.

Pemerintah pendudukan Jeang meminta petani menanam padi dengan teknik ini. Tali dibentangkan, tiap jarak 20 cm diberi ikatan, dan petani menanam padi di titik tali yang ada ikatannya itu.

Kedalaman penanaman pun ditentukan. Bibit padi tidak boleh ditanam lebih dari dua sentimeter. Bibit yang akan ditanam pun ditetapkan usianya, 20-25 hari setelah penebaran bibit.

Jepang juga melarang petani melakukan penanaman tumpang sari. Jepang mengamati, ternyata banyak petani yang melakukan penanaman tumpang sari, dengan tujuan jika tanaman yang satu mati, tanaman yang lain masih bertahan.

Pelarangan ini memunculkan kebencian dari para petani. Sebab, petani dipaksa mencabut salah stau tanaman yang ditanam secara tumpang sari.

Jerpang pun mewajibkan petani membuat pupuk kompus dengan cara menggalitanah sedalam satu meter. Lubang itu dipakai untuk menimbun berbagai sampah, mulai dari sisa makanan, daun, kotoran hewan ternak, sehingga menjadi pupuk kompos.

Jepang juga mengenalkan jenis padi, irigasi dan drainase. Pun melakukan perluasan lahan sawah dengan mengerahkan petani membuka hutan, bekerja sebagai romusa.

Setelah itu, malapetaka terus menghantui para petani. Jepang yang semula disambut bak dewa penolong, sebagai saudara tua yang membebaskan penduduk Indonesia dari penjajahan Belanda, akhirnya mencekik juga penduduk Indonesia.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini

Image

[email protected]

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |