REPUBLIKA.CO.ID, KUTAI KARTANEGARA, – Penerapan pola tambak ramah lingkungan atau silvofishery dalam program rehabilitasi mangrove mulai meningkatkan minat petambak di Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pendekatan ini berhasil mengikis keraguan petambak untuk ikut serta dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Peduli Hutan Mangrove, Suwardi, mengungkapkan bahwa sebagian petambak sebelumnya enggan mengikuti rehabilitasi mangrove. Kekhawatiran utama mereka adalah aktivitas penanaman akan mengganggu budidaya di tambak.
"Di tahun 2025 sampai dengan tahun 2026 ini, saya pikir dengan kondisi di lapangan yang kami alami ini, sedikit ada peningkatan minat masyarakat untuk merehabilitasi mangrovenya karena dengan adanya program M4CR ini tipe pola tanam yang berbeda," kata Suwardi dalam acara Temu Media bersama Masyarakat Pesisir Desa Sepatin, Jumat.
Pendekatan Berbeda Program M4CR
Menurut Suwardi, program rehabilitasi sebelumnya menerapkan penanaman mangrove hampir di seluruh area tambak. Hal ini membuat petambak khawatir tambaknya menjadi kotor dan produksi terganggu.
Namun, program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) menawarkan solusi melalui konsep silvofishery. Konsep ini merupakan perpaduan antara tambak dengan vegetasi mangrove, sehingga fungsi budidaya dan pelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.
Pendekatan tersebut membuat masyarakat lebih terbuka. Mereka melihat langsung bahwa penanaman tidak dilakukan di seluruh area tambak, melainkan pada porsi tertentu yang tidak mengorbankan ruang budidaya utama.
Kepastian Hukum Tingkatkan Partisipasi
Selain tantangan teknis, Suwardi menyebut kelompok masyarakat kerap menghadapi keraguan dari petambak yang khawatir lahannya akan diambil pemerintah jika mengikuti program rehabilitasi. Kekhawatiran ini menjadi penghalang signifikan dalam upaya restorasi mangrove berbasis masyarakat.
"Alhamdulillah, Kementerian Kehutanan menyampaikan langsung bahwa ketika mengikuti rehabilitasi mangrove itu, tidak ada tambak yang memang akan direbut paksa oleh pemerintah," ujar Suwardi. Kepastian ini turut meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir.
Program M4CR di Kalimantan Timur melibatkan kelompok masyarakat dalam rehabilitasi mangrove dengan pendekatan partisipatif. Berdasarkan dokumen pelaksanaan, KTH Peduli Hutan Mangrove menerapkan pola tanam silvofishery di kawasan tambak dengan luas penanaman 31 hektare pada 2025 dan 29 hektare pada 2026 yang masih berlangsung. Kelompok tersebut mencatat tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove sebesar 61 persen pada penanaman 2025.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
.png)
3 hours ago
2

















































