Perang Drone Makin Global, AS hingga Eropa Berlomba Kembangkan Laser dan Sistem Anti-Drone

2 hours ago 4

Penampakan senjata Laser antidrone.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia kini memasuki babak baru peperangan modern, ketika ancaman tidak lagi didominasi jet tempur atau rudal mahal, melainkan oleh drone kecil berbiaya rendah yang mampu menyerang secara massal. Dalam lanskap ini, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mulai berlomba membangun sistem pertahanan baru, mulai dari laser berenergi tinggi hingga teknologi jamming dan drone interceptor.

Di Amerika Serikat, percepatan pengembangan teknologi anti-drone terlihat jelas melalui kerja sama antara militer dan otoritas sipil. Pentagon bersama Federal Aviation Administration (FAA) telah menjajaki penggunaan sistem laser berenergi tinggi untuk menghadapi ancaman drone di wilayah udara domestik.

Langkah ini diambil setelah serangkaian uji coba dan evaluasi keselamatan yang intensif. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi tersebut dinilai cukup aman untuk digunakan dalam kondisi tertentu.

“Setelah melalui penilaian risiko keselamatan yang menyeluruh dan berbasis data, kami menyimpulkan bahwa sistem ini tidak menimbulkan peningkatan risiko bagi masyarakat pengguna transportasi udara,” demikian disampaikan otoritas penerbangan AS, sebagaimana dilaporkan TechRadar pada 15 April 2026.

Namun, di balik optimisme tersebut, pengembangan teknologi ini tidak berjalan tanpa tantangan. Insiden salah sasaran dalam pengujian sistem laser, termasuk penembakan drone pemerintah sendiri, sempat memicu penutupan wilayah udara dan memunculkan kekhawatiran serius.

“Insiden-insiden ini menyoroti kegagalan serius dalam proses yang membuat masyarakat pengguna transportasi udara terpapar risiko keselamatan yang tidak dapat diterima,” kata seorang senator AS, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 12 Maret 2026.

Di tengah kontroversi tersebut, Pentagon tetap melanjutkan pengujian teknologi laser sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman drone yang terus meningkat. Uji coba dilakukan untuk memahami batas kemampuan sistem sekaligus memastikan keamanannya dalam penggunaan nyata.

“Kegiatan yang akan datang ini secara khusus akan membahas kekhawatiran keselamatan dari FAA sekaligus mengumpulkan data,” demikian disampaikan pihak Pentagon, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 6 Maret 2026.

Tidak hanya Amerika Serikat, perlombaan teknologi anti-drone juga terjadi di Eropa. Inggris, misalnya, mempercepat pengembangan sistem laser “DragonFire” yang dirancang untuk menghancurkan target udara dengan biaya per tembakan yang jauh lebih murah dibandingkan rudal konvensional.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |