Paradoks Jerman: Menolak Gas Rusia, Industri Terbebani Energi Mahal

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Empat tahun setelah hubungan energi Jerman dan Rusia runtuh, Kanselir Friedrich Merz secara terbuka menyebut ketiadaan gas Rusia sebagai salah satu faktor di balik krisis energi berkepanjangan yang masih membayangi negaranya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan paradoks besar yang kini dihadapi perekonomian terbesar Eropa. Berlin menolak kembali bergantung kepada Moskow dan bertekad mempertahankan jalur pemisahan energi dari Rusia. Namun, Jerman belum sepenuhnya menemukan sumber energi pengganti yang dapat memberikan harga, volume, dan fleksibilitas setara dengan gas Rusia pada masa lalu.

Merz menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara musim panas ZDF yang disiarkan pekan ini. Ia saat itu tidak sedang ditanya secara khusus mengenai pembukaan kembali jaringan pipa Nord Stream, melainkan mengenai janji kampanye yang belum terpenuhi serta rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintahannya.

Merz berpendapat kondisi yang dihadapi pemerintah telah berubah besar sejak masa kampanye. Ia menyebut perang Ukraina, hubungan yang sulit dengan Amerika Serikat, tantangan dari China, serta krisis energi berkepanjangan akibat tidak adanya gas Rusia.

Ucapan tersebut tidak berarti Merz menyatakan gas Rusia sebagai satu-satunya penyebab masalah ekonomi Jerman. Ia juga tidak menyerukan pembukaan kembali Nord Stream atau pemulihan kerja sama energi dengan Moskow.

Namun, pernyataan itu tetap penting. Untuk pertama kalinya dalam konteks tersebut, Merz secara eksplisit menghubungkan krisis energi yang berlarut-larut dengan hilangnya sumber pasokan yang dahulu menjadi salah satu fondasi industri Jerman.

Bukan Lagi Krisis Kelangkaan

Krisis energi Jerman saat ini berbeda dengan keadaan pada 2022, ketika penghentian aliran gas Rusia menimbulkan kekhawatiran bahwa pasokan untuk rumah tangga dan industri tidak mencukupi selama musim dingin.

Jerman kini memiliki lebih banyak pilihan pasokan. Gas dapat masuk melalui jaringan pipa Eropa, terminal gas alam cair atau LNG, produksi domestik dalam jumlah kecil, serta fasilitas penyimpanan.

Data Bundesnetzagentur atau Badan Jaringan Federal menunjukkan Jerman mengimpor 1.031 terawatt-jam gas sepanjang 2025. Sebanyak 44 persen masuk dari Norwegia, 24 persen melalui Belanda, dan 21 persen melalui Belgia. Sekitar 106 TWh atau 10,3 persen dari seluruh impor masuk melalui terminal LNG di Jerman.

Belanda dan Belgia dalam data tersebut terutama menunjukkan negara tempat gas memasuki jaringan Jerman. Gas itu tidak selalu diproduksi di kedua negara karena sebagian dapat berasal dari LNG yang sebelumnya dibongkar di pelabuhan Eropa.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |