REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan irama jantung atau aritmia tidak selalu dapat disembuhkan hanya dengan konsumsi obat-obatan. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Brawijaya Hospital Saharjo, dr. Simon Salim, mengatakan terapi ablasi masih menjadi standar emas (gold standard) untuk menghilangkan sumber gangguan irama jantung pada pasien dengan kondisi tertentu.
"Kalau targetnya adalah sembuh atau cure, maka gold standard-nya adalah ablasi. Obat hanya menekan gejala, tetapi tidak menghilangkan sumber gangguannya," kata Simon dalam edukasi kesehatan bertajuk Saving Time, Saving Organ, Saving Future di Jakarta, Kamis (31/7/2026).
Simon menjelaskan obat antiaritmia umumnya hanya berfungsi mengurangi atau menekan gangguan irama jantung. Dalam jangka panjang, sebagian pasien dapat mengalami efek samping obat ataupun kondisi ketika obat tidak lagi memberikan respons optimal.
Karena itu, tindakan ablasi mulai dipertimbangkan apabila terapi obat tidak lagi efektif, menimbulkan efek samping, atau pasien menginginkan penanganan yang lebih definitif.
Menurut Simon, tingkat keberhasilan ablasi bergantung pada jenis aritmia yang dialami pasien. Pada beberapa tipe aritmia, tingkat keberhasilannya dapat mencapai sekitar 99 persen, sementara pada jenis lainnya berkisar antara 50 hingga 70 persen.
"Ada tipe aritmia yang tingkat keberhasilannya sangat tinggi, tetapi ada juga yang memang lebih rendah. Itu menjadi kesepakatan para ahli di seluruh dunia," ujarnya.
Simon menuturkan aritmia juga tidak selalu berkaitan dengan penyakit jantung koroner. Sebagian kasus muncul tanpa adanya penyempitan pembuluh darah jantung, meski beberapa faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko keduanya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa seluruh aritmia bersifat berbahaya. Menurutnya, terdapat jenis aritmia yang hanya menimbulkan keluhan tanpa membahayakan jiwa, namun ada pula yang tidak menimbulkan gejala tetapi berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.
Karena itu, deteksi dini menjadi penting. Simon mengatakan perangkat smartwatch kini dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining awal untuk mengenali kemungkinan gangguan irama jantung.
"Teknologi seperti smartwatch sangat boleh digunakan sebagai skrining awal. Namun hasilnya tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis karena perangkat elektronik juga dapat menghasilkan noise atau pembacaan yang tidak akurat," katanya.
Ia menjelaskan konfirmasi diagnosis umumnya dilakukan melalui pemeriksaan elektrokardiografi (EKG), bahkan pada beberapa pasien diperlukan perekaman aktivitas listrik jantung selama 24 jam atau lebih karena gangguan irama jantung dapat muncul secara hilang timbul.
Simon juga menepis anggapan bahwa olahraga meningkatkan risiko aritmia. Menurut dia, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan olahraga dengan intensitas yang tepat dapat memicu gangguan irama jantung.
"Sebaliknya, olahraga yang dilakukan secara benar justru membantu menurunkan risiko diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung koroner, bahkan aritmia," ujarnya.
Sementara itu, Brawijaya Hospital Group terus memperkuat layanan kardiovaskular melalui pengembangan berbagai teknologi penanganan penyakit jantung. Salah satunya ialah layanan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) atau operasi jantung dengan sayatan minimal.
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Brawijaya Hospital Taman Mini, Dr. dr. Ismail Dilawar, mengatakan teknik tersebut memungkinkan operasi dilakukan tanpa membelah tulang dada sehingga nyeri pascaoperasi lebih ringan dan masa pemulihan menjadi lebih singkat.
"Pasien tidak lagi harus dibelah tulang dadanya. Kami hanya menggunakan sayatan kecil di sisi kanan dada, bahkan di bawah ketiak, dengan bantuan kamera. Pasien lebih cepat pulang dan kembali beraktivitas," ujar Ismail.
Ia menambahkan teknik tersebut kini dapat diterapkan pada berbagai kasus, mulai dari penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung hingga penyakit jantung bawaan. Menurut Ismail, tren pasien penyakit jantung koroner yang membutuhkan operasi juga mulai bergeser ke usia yang lebih muda akibat perubahan gaya hidup yang kurang aktif.
"Kami sekarang menjumpai pasien operasi bypass pada usia 33 hingga 38 tahun. Dulu sebagian besar pasien berusia di atas 60 tahun," katanya.
.png)
4 days ago
22
















































