Diajeng Rizky Ramadhani
Lifestyle | 2026-07-23 12:40:25
Bagi mayoritas mahasiswa tingkat akhir, musuh terbesar biasanya adalah revisi dari dosen pembimbing atau judul yang tak kunjung disetujui. Namun, bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, musuhnya bertambah satu: jam kerja yang tak kenal kompromi.
Di satu sisi, ada deadline skripsi yang terus membayangi dan tuntutan untuk lulus tepat waktu. Di sisi lain, ada tugas kantor, instruksi mendadak dari atasan, dan lembur (overtime) yang harus dijalani demi menyambung hidup serta membayar biaya kuliah. Menyeimbangkan keduanya sering kali terasa seperti berjalan di atas tali tipis tanpa jaring pengaman.
Ketika Waktu Luang Hanya Menjadi Mitos
Bagi working student, istilah "waktu luang" hampir tidak ada dalam kamus harian. Pagi hingga sore dialokasikan penuh untuk urusan pekerjaan, sementara malam hari yang seharusnya digunakan untuk istirahat justru dipakai untuk membuka laptop, melototi olah data, dan mengetik bab demi bab.
Tak jarang, lembur di kantor memakan waktu hingga larut malam. Alhasil, energi untuk menyentuh draft skripsi sudah terkuras habis. Muncul rasa bersalah jika tidak mengerjakan skripsi, tetapi fisik yang remuk dan otak yang penat menuntut untuk segera tidur. Dilema berulang ini perlahan-lahan mengikis kesehatan mental.
Risiko Terjebak dalam "Kenyamanan" Gaji
Satu hal yang sering menjadi jebakan bagi mahasiswa pekerja adalah zona nyaman finansial. Saat sudah merasakan memiliki penghasilan sendiri, motivasi untuk menyelesaikan skripsi kerap kali kendur. Pikiran seperti, "Toh gue udah bisa cari uang sendiri, buat apa buru-buru lulus?" sering terlintas. Padahal, menunda skripsi hanya akan memperpanjang beban biaya semesteran dan menumpuk rasa cemas di masa depan.
Strategi Bertahan dan Tetap Lulus Tepat Waktu.
Lulus tepat waktu di tengah gempuran overtime memang tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Beberapa langkah ini bisa membantu menjaga ritme:
1. Cicil Target Kecil (Micro-Goals): Jangan mematok target muluk seperti "malam ini harus selesai 1 bab". Buat target realistis, misalnya "malam ini cukup tulis 2 paragraf" atau "cari 3 referensi jurnal".
2. Manfaatkan "Waktu Sela": Gunakan jam istirahat kantor atau waktu di transportasi umum untuk sekadar membaca artikel ilmiah atau mencatat ide di HP.
3. Komunikasi Transparan: Bicarakan kondisi Anda secara jujur kepada dosen pembimbing. Kebanyakan dosen akan mengapresiasi kejelasan dibanding mahasiswa yang menghilang tanpa kabar.
4. Disiplin Batasi Diri: Jika memungkinkan, komunikasikan batasan lembur di tempat kerja saat mendekati deadline sidang. Prioritaskan kesehatan fisik agar tidak burnout di tengah jalan.
Menjalani peran ganda sebagai pekerja dan pejuang skripsi adalah bukti ketangguhan yang luar biasa. Memang melelahkan, tetapi ingatlah bahwa setiap baris ketikan di tengah malam adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik. Lulus tepat waktu mungkin terasa berat, tetapi menyelesaikan apa yang sudah dimulai adalah bentuk penghormatan terbaik untuk perjuanganmu sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
3 hours ago
3













































