ILUSTRASI Madinat az-Zahra. Runtuhnya Daulah Umayyah di Andalusia memberikan hikmah bagi generasi kini.
REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah mencatat sosok unik dari Andalusia bernama Yahya ibn Hakam al-Ghazal, seorang penyair istana yang bukan hanya piawai merangkai kata, tetapi juga lihai menjalankan misi diplomatik lintas peradaban—dari Konstantinopel hingga ke wilayah bangsa Viking di utara Eropa.
Kisahnya diabadikan oleh sejarawan Cordoba, Ibnu Hayyan, yang menuturkan bahwa Al-Ghazal awalnya enggan menerima tugas sebagai utusan dari amir Andalusia, Abdurrahman II. Penolakan halus itu justru membuatnya dicap sebagai pribadi yang keras kepala, bahkan kurang ajar.
Di balik sikap nyentriknya, Al-Ghazal dikenal cerdas, tampan, dan memiliki kemampuan satire yang tajam. Julukan “Al-Ghazal” sendiri berarti “kijang”, merujuk pada pesona dan kelincahannya dalam berbicara."Ia memiliki berbagai macam kebijaksanaan. Dia berpura-pura bodoh ketika berbicara, dan dia lucu, bersemangat, dan selalu tenang dalam ekspresinya," tulis Ibnu Hayyan dikutip dari Aramcowolrd, Kamis (26/3/2026).
Pada 834 M, Al-Ghazal akhirnya berangkat ke Konstantinopel untuk menjalin aliansi politik. Di sana, ia menghadapi ujian pertama saat bertemu Kaisar Theophilos. Sang kaisar sengaja membuat pintu masuk istana sangat rendah agar tamunya tampak seperti berlutut. Namun Al-Ghazal mengakalinya dengan masuk sambil membelakangi pintu, lalu berbalik tegak setelah masuk. Tindakan cerdas ini membuat istana terkesan, termasuk Permaisuri Theodora.
Bahkan, dalam sebuah kisah yang terkenal, Al-Ghazal terang-terangan memuji kecantikan sang ratu dengan gaya puitis—sesuatu yang berani dalam etika diplomasi kala itu.
Sebelum misi besar itu, Al-Ghazal sempat terlibat konflik dengan musisi legendaris Persia, Ziryab, yang membuatnya diasingkan ke Baghdad. Di sana, ia bertemu penyair besar Abu Nawas, yang turut memperkaya kemampuan sastranya.
.png)
11 hours ago
2

















































