Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan untuk Targetkan Rudal Iran

8 hours ago 5

Kapal-kapal kargo terlihat di Teluk Persia dekat Pulau Qeshm di provinsi Hormozgan, Iran, 23 Desember 2011 (diterbitkan ulang 20 Maret 2026). 70% pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Pemerintah Inggris telah menyetujui perluasan akses Amerika Serikat (AS) ke pangkalan-pangkalan Inggris untuk operasi yang menargetkan kemampuan rudal Iran yang mengancam pelayaran di Selat Hormuz, menurut pernyataan Downing Street. Pernyataan pemerintah menyebutkan, dalam pertemuan Jumat (20/3), para menteri kabinet mengonfirmasi bahwa kesepakatan bagi AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris dalam pertahanan diri kolektif kawasan tersebut mencakup operasi pertahanan AS untuk menurunkan kemampuan dan situs rudal yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Pemerintah menekankan bahwa "prinsip-prinsip di balik pendekatan Inggris terhadap konflik tetap sama" dan menyerukan "de-eskalasi yang mendesak serta penyelesaian perang yang cepat."

Para menteri kabinet "mengutuk perluasan target Iran hingga mencakup pelayaran internasional."

"Mereka sepakat bahwa serangan sembrono Iran, termasuk terhadap kapal-kapal Red Ensign (British Shipping Registers) dan kapal-kapal sekutu dekat serta mitra Teluk kita, berisiko mendorong kawasan tersebut lebih jauh ke dalam krisis dan memperburuk dampak ekonomi yang dirasakan di Inggris dan di seluruh dunia."

Dalam tulisannya di akun media sosial X, pemimpin oposisi Konservatif Kemi Badenoch menyebut keputusan itu sebagai "perubahan haluan terbesar sepanjang masa."

Sejak serangan intensif AS-Israel dimulai pada 28 Februari, Inggris telah beralih dari penolakan awal terhadap akses ke pangkalan menjadi keterlibatan logistik dan operasional yang lebih mendalam.

"Meskipun mengambil tindakan yang diperlukan untuk membela diri dan sekutu kami, kami tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas," kata Perdana Menteri Inggris Starmer pada Senin. Ia menambahkan bahwa pemerintah Inggris akan terus berupaya mengakhiri pertempuran.

Namun, peran Inggris yang semakin meluas dalam konflik tersebut telah memicu perdebatan mengenai apakah posisi tersebut semakin sulit untuk dipertahankan.

Permusuhan regional di Timur Tengah meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal di seluruh wilayah tersebut serta secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal.

Selat Hormuz merupakan jalur transit minyak utama yang biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |