
Ekosistem Hidrogen Rendah Karbon di RI Diperkuat, Ini Caranya (Foto: Biomassa/PLN EPI)
JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pengembangan ekosistem hidrogen rendah karbon nasional melalui rangkaian kolaborasi bisnis, pengembangan rantai pasok, dan pertukaran pengetahuan.
Dalam forum Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 pada 21-23 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), PLN EPI mendorong optimalisasi potensi biomassa Indonesia sebagai bahan baku biohidrogen dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (eSAF).
Partisipasi PLN EPI meliputi penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan perusahaan asal Singapura, eFuels SEA Pte. Ltd., serta penyampaian strategi pengembangan biohidrogen oleh jajaran perusahaan dalam dua sesi konferensi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai nilai energi rendah karbon dari sumber bahan baku, teknologi produksi, logistik, hingga pemanfaatannya oleh sektor ketenagalistrikan, transportasi, dan industri.
GHES 2026 dibuka oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Dalam arahannya, Bahlil menempatkan hidrogen sebagai salah satu sumber energi masa depan yang berpotensi memperkuat kemandirian energi nasional.
"Selain itu, juga mendorong hilirisasi industri, dan melengkapi pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai," kata Bahlil.
Pemerintah juga mendorong GHES 2026 bergerak dari tahap penyusunan peta jalan dan kesepakatan awal menuju tindak lanjut serta implementasi proyek yang lebih konkret,
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan, keikutsertaan perusahaan dalam GHES 2026 menunjukkan komitmen PLN EPI untuk tidak hanya menjaga keandalan pasokan energi primer saat ini, tetapi juga mempersiapkan sumber energi masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
PLN EPI juga mengembangkan portofolio energi primer rendah karbon dengan mengoptimalkan kekayaan sumber daya domestik, termasuk biomassa.
"GHES 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan potensi bahan baku Indonesia dengan teknologi, investasi, dan pasar sehingga pengembangan biohidrogen serta eSAF dapat bergerak menuju implementasi yang nyata,” ujar Mamit.
Pada hari pertama penyelenggaraan, PLN EPI dan eFuels SEA Pte. Ltd. menandatangani MoU untuk menjajaki pengembangan rantai pasok hidrogen hijau lintas batas antara Indonesia dan Singapura.
Kerja sama tersebut juga mencakup eksplorasi peluang pengembangan ekosistem eFuels, mulai dari kajian potensi bahan baku, teknologi produksi, model bisnis, hingga peluang pemanfaatan dan pemasaran produk energi rendah karbon.
Mamit menambahkan, kerja sama internasional dibutuhkan untuk mempercepat penguasaan teknologi, memperkuat kelayakan komersial, dan membuka akses terhadap pembiayaan serta pasar energi bersih.
“Pengembangan hidrogen membutuhkan ekosistem yang terintegrasi dan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Melalui kolaborasi ini, PLN EPI ingin membangun fondasi rantai pasok yang kuat, kompetitif, dan berkelanjutan dengan tetap mengutamakan pemanfaatan potensi energi domestik serta penciptaan nilai tambah bagi Indonesia,” kata Mamit.
.png)
9 hours ago
4

















































