Destry: Kenaikan Suku Bunga BI Berhasil Tarik Modal Asing hingga 9 Miliar Dolar AS

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penjabat Sementara (PJs) Gubernur Bank Indonesia (BI) menyampaikan kebijakan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate yang dilakukan BI pada periode Mei—Juni 2026 berhasil menarik aliran modal asing.

"Dampaknya yang pertama tentu inflow. Inflow memang saat ini baru di SBN (Surat Berharga Negara) dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia). Pada kuartal II 2026 kenaikannya cukup signifikan sehingga total telah terjadi inflow sekitar 8,5—9 miliar dolar AS," kata Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 bps pada Mei dan Juni 2026 sebagai respons terhadap ketidakpastian global yang sangat volatile, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak dunia, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Pada saat itu tekanan terhadap rupiah sangat tinggi sehingga sejak Mei stance terhadap stabilitas memang kami perkuat, antara lain dengan menaikkan suku bunga 100 bps. Harapannya, pertama, akan terjadi repricing terhadap aset rupiah dan juga memberikan spread yang lebih menarik terhadap aset yang didominasi rupiah," ujar Destry.

Selain berhasil menarik aliran modal asing ke Indonesia, Destry mengatakan kebijakan kenaikan suku bunga acuan juga berhasil menjaga inflasi. Hal itu tercermin dari inflasi Juli 2026 yang sebesar 2,88 persen (yoy), masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi inti juga tercatat stabil di level 2,76 persen.

"Jadi artinya pergerakan ekonomi yang terjadi itu tidak mendorong overheating atau tidak mendorong ekonomi secara keseluruhan naik," katanya.

Di samping itu, nilai tukar rupiah juga terpantau menguat. Per 31 Juli 2026, rupiah berada di level Rp 17.994 per dolar AS setelah sempat melemah sejak pertengahan Juli 2026 akibat meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Funds Rate (FFR). Meski demikian, rupiah masih sedikit lebih lemah dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang berada di level Rp 17.880 per dolar AS.

Adapun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar 145,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |