
Oleh: Setiawan Budi Utomo, Founder & Executive Director, CISET Center for Islamic Socio-Economic Transformation
REPUBLIKA.CO.ID -- Indonesia memiliki modal ekonomi yang jarang dimiliki negara lain: Jutaan orang bergerak setiap tahun bukan semata untuk berwisata, tetapi mencari makna. Dari makam Wali Songo, masjid bersejarah, pesantren, hingga pusat tradisi Islam, perjalanan religi membentuk arus manusia yang besar dan relatif loyal.
Namun pertanyaan ekonominya bukan lagi berapa banyak peziarah datang. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Berapa besar nilai ekonomi yang tertinggal di masyarakat, dan berapa banyak yang akhirnya dikonversi menjadi modal serta aset produktif?
Pertanyaan itulah yang seharusnya menggeser paradigma wisata religi Indonesia: dari menghitung kedatangan menuju membangun ekosistem ekonomi umat.
Dari Traffic ke Value
Dalam ekonomi pariwisata dikenal tourism multiplier effect. Pengeluaran wisatawan tidak berhenti pada transaksi pertama. Uang yang diterima penginapan, rumah makan, transportasi, pedagang, dan pemandu menjadi pendapatan pekerja dan pemasok, lalu sebagian dibelanjakan kembali.
Karena itu, nilai ekonomi destinasi religi tidak cukup diukur dari tiket atau retribusi. Ia ditentukan oleh jumlah pengunjung, lama tinggal, belanja per pengunjung, kandungan lokal barang dan jasa, serta efek penggandanya.
Masalahnya, traffic tinggi belum tentu menghasilkan economic yield tinggi. Peziarah dapat datang pagi hari, berziarah beberapa jam, membeli sedikit makanan atau oleh-oleh, kemudian kembali pada hari yang sama. Destinasi ramai, tetapi nilai ekonomi yang tertinggal terbatas.
Indonesia sebenarnya memiliki basis statistik untuk bergerak lebih jauh. Statistik Wisatawan Nusantara 2025 yang diterbitkan BPS pada April 2026 telah mencakup maksud perjalanan, akomodasi, lama perjalanan, dan rata-rata pengeluaran dengan memanfaatkan Mobile Positioning Data dan Survei Digital Wisatawan Nusantara.
Yang belum tersedia secara memadai adalah pengukuran granular ekonomi wisata religi: Berapa visitor yield, berapa local retention, berapa pekerjaan tercipta, dan berapa UMKM benar-benar naik kelas. Inilah missing link pertama.
Pasar yang Semakin Besar
Wisata religi mempunyai karakter unik karena destinasinya sulit disubstitusi. Peziarah yang hendak mengunjungi makam Sunan Kalijaga tidak menggantinya dengan objek lain hanya karena penginapannya lebih murah. Sejarah, keyakinan, keterikatan emosional, dan kesakralan menciptakan destination-specific demand.
Dalam perspektif experience economy, wisatawan juga tidak sekadar membeli barang dan jasa, tetapi pengalaman, cerita, pengetahuan, identitas, dan makna. Nilai ekonomi karenanya dapat diperluas tanpa mengomersialisasikan substansi agama.
Pasarnya semakin besar. Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2026 memperkirakan perjalanan internasional wisatawan Muslim meningkat dari sekitar 196 juta pada 2025 menjadi 208 juta pada 2026 dan dapat mencapai 262 juta pada 2030, dengan pengeluaran tahunan sekitar 310 miliar dolar AS.
Momentum ini relevan bagi Indonesia. Pada Juli 2026, Kementerian Pariwisata mulai mempersiapkan Indonesia Muslim Travel Index 2026 dengan melibatkan pemerintah daerah dari 38 provinsi sebagai instrumen peningkatan kualitas dan daya saing destinasi ramah Muslim.
Wisata ramah Muslim memang tidak identik dengan wisata religi. Namun keduanya beririsan dalam halal hospitality, perjalanan, kuliner, ekonomi kreatif, dan pengalaman berbasis nilai. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan kunjungan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Belajar dari Saudi dan India
Arab Saudi memperlihatkan bagaimana perjalanan keagamaan menjadi jangkar ekosistem ekonomi. Pada musim Haji 2026 terdapat 1.707.301 jamaah, dengan 1.546.655 berasal dari luar Saudi. Ekonominya tidak berhenti pada penyelenggaraan ibadah, tetapi terkoneksi dengan penerbangan, kereta, hotel, retail, teknologi digital, heritage, dan pembangunan kota.
India menawarkan pelajaran lain. Ayodhya dan Varanasi menunjukkan bagaimana religious heritage dapat ditempatkan dalam pembangunan kawasan melalui konektivitas, amenitas, ruang publik, hospitality, dan ekonomi lokal.
Indonesia tidak perlu meniru keduanya. Kekuatan kita justru terletak pada wisata religi yang hidup di tengah komunitas. Makam, masjid, pesantren, pasar, kampung, kuliner, kerajinan, dan tradisi sering berada dalam satu ruang sosial. Model Indonesia karena itu semestinya berkembang menjadi community-based religious economic ecosystem.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
3 hours ago
6













































