Lulu Nugroho
Info Terkini | 2026-08-05 10:31:15
Seorang pria curhat di media sosialnya saat ia menunggu ruang kosong untuk mendapatkan penanganan medis. Dalam sekejap banyak yang merespons, termasuk di antaranya adalah para petugas medis. Komentar mereka pun beragam, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Beberapa yang kontra datang dari para dokter yang menggunakan diksi nirempati terhadap penderitaan pasien tersebut. Belakangan diketahui bahwa mereka justru berasal dari universitas ternama di negeri ini.
Ke mana hilangnya rasa berkasih sayang? Sejatinya Allah menganugerahi naluri itu terhadap setiap insan. Sehingga sesama manusia mudah luluh dan terenyuh hatinya melihat kesulitan orang lain. Sebagian netizen menduga kuat bahwa tenaga medis tersebut telah lelah bekerja sehingga tak mampu lagi menulis kata-kata santun. Sebagian lainnya menanggapi bahwa tekanan di tempat kerja, sama sekali tak boleh menghilangkan rasa iba.
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan yang berpijak pada sekularisme, tak mampu mempertahankan sikap welas sih. Bahkan telah mengikis naluri dasar yang ada pada manusia yaitu naluri berkasih sayang (gharizah nau'). Kehidupan yang tegak di atas fondasi pemisahan agama dari kehidupan (fashludin anil hayah) membuat nilai-nilai agama menjadi mudah luntur. Manusia bergerak dalam aktivitasnya, demi untuk nilai-nilai yang terukur (materi) bukan lagi untuk mendapat rida Allah SWT. Tak lagi ada kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah, Sang Pencipta dan Pengatur.
Manusia sibuk mengurusi dirinya sendiri, tak peduli sesama. Mereka pun beralih ke media sosial, dan berkeluh kesah di sana. Media sosial akhirnya menjadi ruang curhat. Celakanya hal itu akan memicu respons negatif, dan merusak privasi sebagaimana kasus pria tadi. Bahkan ranah privasi pun dimasuki netizen, dan menjadi konsumsi orang banyak. Komentar warganet malah memperkeruh suasana. Alih-alih membantu, mereka justru membuat hati semakin pilu.
Di era digital, manusia kerapkali mencari validasi atas perasaan-perasaannya. Dan hari ini, hal itu dianggap wajar dan manusiawi. Sementara, curhat di media sosial memiliki risiko yang tinggi karena akan bertemu dengan banyak manusia dengan kepribadian, latar belakang dan pendidikan yang beragam. Akibatnya, respons yang muncul pun tidak bisa dikontrol, di antaranya adalah komentar toksik. Netizen bisa menghakimi atau bahkan seolah memihak dengan validasi semu. Bahkan jumlah likes atau views tidak akan pernah menyembuhkan akar masalah. Sebab tak ada perangkat negara di dunia maya, hanya ada ruang hampa dan bilik-bilik emosi yang dikendalikan pemahaman tertentu.
Sejalan dengan itu, penguasa pun lamban menanggapi kondisi rakyatnya. Saat sebuah masalah menjadi viral, dan korban jatuh, barulah mereka beraksi. Bahkan kadang terlambat, sebab tak pernah sempat merespon dengan cepat.
Sementara kesehatan adalah hak asasiyah setiap individu. Rakyat berhak memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas tanpa birokrasi berbelit. Kebuntuan di salah satu jalur pelayanan publik, semestinya bisa segera ditangani. Ada petugas negara yang siap merespon permasalahan yang berkelindan di tengah kehidupan. Sebagaimana dahulu pada masa kejayaan Islam, ada mekanisme majelis umat yang terdiri dari para tokoh yang menjadi perwakilan rakyat. Di sana masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya dan segera mendapatkan tanggapan. Sehingga mereka tak perlu ke dunia maya, sebab di dunia nyata, kehidupan telah berjalan dengan baiknya.
Pun terdapat petugas yang menakar persoalan dan memberikan keputusan adil yaitu qadi hisbah, sehingga dapat ditemukan akar masalah dan memberikan solusi hakiki atasnya. Sebab bisa jadi Rumah Sakit tersebut memiliki kendala khusus yang tak mampu mereka pecahkan sehingga mengakibatkan pasien terkatung-katung dan mempengaruhi pelayanan publik.
Perlu perbaikan sistemik pada tata kelola kehidupan hari ini, agar tak lagi berpijak pada sekularisme, sebaliknya berpaling dan merubah arah agar bersandar kepada Allah SWT dan mengikuti seluruh tuntunannya. Manusia akan saling mengasihi dan mendedikasikan ilmunya untuk kemuliaan agama Allah. Allahumma ahyanaa bil Islam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
12 hours ago
9

















































