REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai sekitar 14 persen dinilai membuka ruang besar bagi pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang. Melihat peluang tersebut, SiCepat Ekspres mulai menggarap pasar logistik di luar e-commerce melalui pengembangan layanan business to business (B2B).
CEO SiCepat Ekspres Barry Lim mengatakan pemerintah menargetkan biaya logistik nasional dapat ditekan hingga sekitar 8 persen. Menurut dia, setiap peluang peningkatan efisiensi menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk menghadirkan layanan logistik yang lebih terintegrasi bagi pelaku usaha.
“Jadi, angka 14 persen, biaya logistik ditargetkan ke 8 persen. Artinya, setiap ada peluang untuk industri lebih efisien, di sana ada peluang kami untuk bisa berkontribusi. Berkontribusi untuk memberikan impact, efisiensi dan efektivitas dari perusahaan bisnis kita ke market,” ujar Barry dalam peluncuran SiCepat Logistik, dikutip Rabu (29/7/2026).
Barry mengatakan perusahaan kini memperluas sasaran pasar dengan menggarap kebutuhan logistik berbagai sektor industri. Selain pelaku e-commerce, SiCepat membidik pabrik, manufaktur, pemilik merek (brand), distributor, retailer hingga sektor pertambangan sebagai sumber pertumbuhan baru.
“Target kami di Indonesia memiliki pasar yang beragam, mulai dari pabrik, manufaktur, brand, distributor, retailer, bahkan ke depan bisa masuk ke sektor mining. Kami akan lihat semuanya, karena logistik ini luas sekali. Jadi kalau bicara target, akan banyak. Dan tentunya secara ekonomi akan menambah kami punya pendapatan,” katanya.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, SiCepat meluncurkan SiCepat Logistik yang menyediakan layanan full truckload (FTL), less than truckload (LTL), pergudangan, heavy cargo, freight forwarding, hingga ekspor-impor. Seluruh layanan tersebut terintegrasi dengan jaringan distribusi SiCepat mulai dari first mile, middle mile, hingga last mile.
Barry menjelaskan bisnis logistik tersebut tidak dibangun dari nol. Perusahaan memanfaatkan jaringan operasional yang telah dikembangkan sejak 2014 sehingga layanan baru dapat langsung terintegrasi dengan sistem distribusi yang sudah berjalan.
“Singkat cerita, sebenernya inisiatif baru ini kami tidak membangun dari awal. Tapi membangun dari fondasi yang sudah ada. Yang kami sudah kembangkan dari sejak tahun 2014. Jadi layanan baru, tapi dibangun dari fondasi yang sudah ada,” katanya.
.png)
1 week ago
26














































